drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 2

Profesor Tabrani Yang Berani


Oleh : drh.chaidir, MM

Suka atau tidak suka, rela atau tidak rela, kini julukan Profesor Tabrani telah bertambah satu lagi. Selebritis! Dulu dia memang sudah selebritis juga tapi agaknya belum sah, belum afdhol. Sejak ia mempersunting selebritis Alicia Johar yang ngetop di era 1970 an, maka julukan selebritis untuk Prof. Tabrani menjadi sah. Alicia Johar, artis separuh baya itu masih tetap cantik (kalau tak cantik, manalah pula kawan kita mabuk kepayang). Alicia Johar masih membintangi seri sinetron Kecil-kecil Jadi Manten, sebagai Emaknya Syahrul Gunawan. Konsekuensinya, Profesor Tabrani muncul dalam program Check and Recheck, Kabar Kabari, dan Hot Spot yang diperuntukkan bagi kalangan selebritis dan kehidupannya.

Cari popularitas? Tentu tidak, sebab Profesor Tabrani tidak lagi memerlukan popularitas. Dia sendiri denga "Tabrani Rab"nya sudah cukup populer. Saya yakin Profesor kita kali ini memang ketemu batunya, dan berani jatuh cinta lagi. Gerangan siapa duluan yang rebut hati, Alicia kah atau Sang Profesor, tentu tida lagi jadi soal dan tidak relevan untuk dipersoalkan. Kini selasih itu telah mereka tanam berdua di sudut halaman dan mereka siram berdua, sebagai lambang percintaan. Profesor Tabrani agaknya sudah lelah menjadi duren (duda keren). Menjadi duren flamboyan godaannya memang banyak.

Tahun lalu, ketika Theys, tokoh Papua Merdeka, tewas dan kemudian disusul pula oleh Teuku A. Syafe'i, tokoh GAM, Profesor Tabrani sempat tercekam. la, yang jugaa sering dijuluki Presiden Riau Merdeka, sempat ketar-ketir dan berkelakar dalam satu forum dialog di DPRD Riau. Katanya, ia takut mati, tapi kemudian buru-buru ditambahkan, karena sedang pengantin baru. Saya baru sadar ketika beberapa hari kemudian, dia memperkenalkan pendamping barunya, seorang wanita yang berdarah Timur Tengah. Namun, tak lama kemudian saya pun mendengar, bahwa Profesor kita kembali menduda dan kembali ke kesunyian sebagaimana voice mail telepon selulernya yang memelas. Assalamu'alaikum ... dalam kesunyian ... dan renunganku seorang .... tinggalkanlah pesan.

Profesor Tabrani Rab memang sebuah fenomena. Apalah jadinya Riau modern tanpa kehadiran sosok yang selalu membuat leguh-legah ini. Sekejap ade, sekejap tak ade. Dia tidak hanya akrab dengan pekerjaan-pekerjaan dan karya-karya intelektual, seperti menulis, menerbitkan buku, mengisi seminar, menyelenggarakan forum-forum diskusi, dan sebagainya. Kepeduliannya terhadap akar rumput pun sudah teruji. Dia tidak segan-segan mengacungkan tinju membela buruh, ikut berunjuk rasa menuntut keadilan, dan juga rela bertungkus lumus membela kelompok yang teraniaya. Salah satu alasan kenapa Profesor Tabrani Rab bersedia tampil memberikan orasi di panggung Partai Golkar dan kembali mengenakan jaket kuning dalam satu Rapat Akbar beberapa waktu yang lalu, adalah karena dia menganggap Akbar Tanjung dari Partai Golkar sedang teraniaya. Suatu saat, tanpa membawa persiapan apa-apa, kami terpaksa pula bermalam saat meninjau rumah-rumah penduduk yang dibakar di dusun Ampaian Rotan, kecamatan Bagan Sinembah oleh kelompok] orang yang tidak bertanggung jawab. Saya melihat kepeduliannya yang sangat tinggi terhadap rakyat yang terpinggirkan dan digilas oleh ketidakadilan.

Komitmennya terhadap ke-Riau-an dan ke-Melayu-an tidak usah diragukan lagi. Sampai-sampai, akibat semangatnya yang tinggi dalam memperjuangkan hak-hak lokal yang terabaikan akibat kebijakan pemerintah pusat yang sentralistis, Profesor Tabrani pun mendapat julukan yang dirasakannya ngeri-ngeri sedap, Presiden Riau Merdeka. Dalam kontroversi reaksi yang muncul, kemerdekaan itu pun kemudian diterjemahkannya bukan dalam arti sebuah negeri yang berdaulat, tetapi merdeka dalam memanfaatkan sumber daya alam bagi se-besar-besar kesejahteraan rakyat. Masalah pun cair.

Oleh karena itu, ketika suatu kali saya menghubunginya pada suatu senja yang sudah agak jauh, apakah Ongah Tab (panggilah akrabnya yang lain) bersedia seandainya DPRD Riau memilih Ongah sebagai Calon Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD), dengan terkekeh, dia menjawab bersedia. Dia kemudian sungguh-sungguh terpilih sebagai anggota DPOD bersama calon dari Sulawesi Selatan. Padahal, hampir seluruh provinsi mengusung calon dalam pemilihan tersebut. DPOD adalah sebuah lembaga yang berada langsung di bawah Presiden. Kendaraan DPOD ini memberi peluang kepada Profesor Tabrani Rab untuk berkomunikasi langsung dengan Presiden. Hal itu tampak dilakukannya dengan baik. Keberadaannya di DPOD memmbuktikan bahwa kecintaan Profesor Tabrani Rab terhadap NKRI tidak perlu diragukan lagi. Cara mencintai mungkin yang berbeda.

Kinerjanya di DPOD membuktikan bahwa Ongah layak jual. Dia tidak hanya terkenal di Bagan Siapi-api dan Riau kampung halamannya. Di bagian lain negeri ini, namanya juga cukup kondang. Oleh karena itu pula, ketika nama Profesor Tabrani Rab tidak muncul dari Riau sebagai salah satu bakal calon Presiden dalam Konvensi Pemilihan Presiden RI dari Partai Golkar, namun justru muncul di Jakarta yang mewakili organisasi kemasyarakatan, orang tidak heran. Bahkan, hal ini menguntungkan dan menjadikan nama Profesor Tabrani Rab semakin terlihat besar dan berkibar. Buktinya, dia lolos verifikasi oleh Panitia Nasional Konvensi Partai Golkar dan kini tercatat sebagai salah seorang dari 19 Bakal Calon Presiden RI dari Partai Golkar yang resmi diizinkan berkampanye ke daerah-daerah seluruh Indonesia.

Dalam suatu sosialisasi diri bakal calon Presiden dari Partai Golkar baru-baru ini di Pekanbaru saya memperoleh kesempatan yang bagus sebagai moderator, mengingat yang tampil adalah kandidat-kandidat yang memiliki kelas. Beliau-beliau adalah Akbar Tanjung, Yusuf Kalla, Sri Sultan Hamengkubuwono X, dan last but not least, Profesor Tabrani Rab. Ketika saya melihat kandidat lain, masing-masing didampingi oleh istri, saya tidak tahan untuk tidak usil menggoda Profesor Tabrani. Saya memperkenalkan Nina Akbar Tanjung, kemudian Nyonya Yusuf Kalla, menyusul Ratu Hemas. Saya belum menyebut kandidat Presiden yang keempat, hadirin sudah tertawa duluan, karena Profesor Tabrani memang tidak ada pendampingnya. Kandidat kita yang satu ini memang berstatus duda. Oleh karena itu, suatu kali Profesor Tabrani pernah bilang, apabila dia terpilih meniadi Presiden RI, maka program pertamanya adalah membubarkan Dharma Wanita. Dia hanya terkekeh ketika Akbar Tanjung menyarankan agar cepat-cepat mencari pendamping.

Entah karena diledek dalam pertemuan tersebut, entah karena saran Akbar Tanjung, beberapa hari kemudian, Profesor Tabrani Rab dengan berani sungguh-sungguh menanggalkan status duremya, melangsungkan pernikahannya yang kesekian dengan artis Alicia Johar. Profesor Tabrani agaknya tidak mau main-main dengan waktu, karena waktu selalu menolak untuk ditaklukkan, apalagi oleh manusia yang nisbi, sebagaimana diucapkan oleh Milan Kundera. Tugas manusia memang bukanlah menaklukkan waktu, tapi menciptakan sejumlah kenangan yang dapat disebut dengan manis pada masa datang.
Profesor Tabrani, sabas

(20 September 2003)


Tulisan ini sudah di baca 484 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/144-Profesor-Tabrani-Yang-Berani.html