drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 2

Ditinggikan Seranting


Oleh : drh.chaidir, MM

Yang namanya konsep pemimpin dan kepemim pinan dewasa ini sedang dikunyah-kunyah oleh publik, tidak hanya di tataran lokal, di daerah-daerah di mana akan berlangsung pemilihan Kepala Daerah, bahkan juga untuk tataran nasional. Diskusi tidak hanya terjadi dalam bentuk seminar-seminar atau semiloka di hotel berbintang, perdebatan di kedai-kedai kopi pun tidak kalah serunya.

Di kedai kopi jalan Hang Tuah, Pekanbaru misalnya, tempat mangkalnya para kuli disket alias wartawan, semua permasalahan pemimpin dan kepemimpinan dikupas tuntas. Mulai dari George W. Bush, Saddam Hussein, Dr. Mahathir Mohamad, sampai kepada Megawati Soekarnoputri dan Hamzah Haz. Saleh Djasit, Huzrin Hood, dan Jefri Noor jangan tanya. Itu menu tetap sehari-hari. Biasanya, bila sudah menyangkut kepemimpinan seorang tokoh, maka sang tokoh akan "ditelanjangi" habis tanpa basa-basi. Kedai kopi di Jalan Hang Tuah agaknya pantas dijuluki akademi politik bayangan di Kota Bertuah Pekanbaru.

Perdebatan mengenai konsep pemimpin dan kepemimpinan ini agaknya terdorong oleh iklim politik yang sangat meriah dewasa ini, ditambah pula dengan berjibunnya buku-buku tentang kepemimpinan yang beredar di pasaran. Buku-buku ini mudah diperoleh dan harganya pun terjangkau. Bahasan tentang berbagai aspek kepemimpinan dapat dengan mudah kita cari, misalnya mengenai esensi kepemimpinan, kepemimpinan visioner, pemimpin dalam krisis, pemimpin global, pemimpin kredibel, kepemimpinan Churchill, kepemimpinan Lincoln, kepemimpinan Melayu, semua ada, bahkan sampai kepada pemimpin badak, pemimpin kelelawar, dan sebagainya. Mustahil buku-buku itu tak ada satu pun yang dibeli dan dibaca. Para calon pemimpin pun bisa belajar (kalau mau), pilih gaya kepemimpinan yang mana, Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Kennedy, Lee lacocca, atau kepemimpinan seperti raja komputer Bill Gates?

Memang ironis. Demikian banyak bacaan, demikian banyak referensi, demikian banyak perbandingan yang bisa dipetik dari kesalahan-kesalahan negeri lain, tapi kita terpuruk dalam wilayah krisis kepemimpinan. Apakah karena kita tidak mau belajar atau tidak mampu belajar? Mungkin salah satu benar, atau kedua-duanya benar. Paling tidak, itu pendapat dari para pengamat. Ada beberapa petunjuk ke arah itu yang patut kita cermati. Lihatlah wajah kita sekarang, wajah masyarakat kita. Lihatlah, bagaimana susahnya membangun sebuah kebersamaan. Lihat bagaimana longgarnya sebuah ikatan persaudaraan. Solidaritas demikian rapuh. Rasa senasib sepenanggungan tinggal hiasan bibir. Pertelagahan demi pertelagahan tak pernah terdamaikan.

Mengelaborasi Editorial Harian Media Indonesia, para pemimpin kita agaknya memang terjebak dalam parokialisme. Beliau-beliau para pemimpin itu, kalau tidak terperangkap dalam kepentingan partai atau kelompok, maka mereka terperangkap dalam isme-isme sempit seperti provinsialisme, kabupatenisme, kecamatanisme, sukuisme, dan sebagainya. Kita semakin susah mencari seorang pemimpin yang memiliki kemampuan mendamaikan pertelagahan, yang bisa diterima dan dipercaya menjadi penengah, yang tidak berpikir untuk kepentingan suatu kelompok atau pribadinya. Pemimpin seperti itu harus memiliki kapabilitas, kredibilitas, dan integritas yang tinggi, sehingga bisa diterima oleh kedua pihak yang bertelagah.

Sesungguhnya kepemimpinan tokoh-tokoh non formal dalam masyarakat pernah mengalami masa keemasan, ketika setiap ucapan mereka menjadi fatwa, ketika mereka amat disegani. Tapi kini entah siapa yang salah, nilai-nilai itu nampaknya telah bergeser. Entah cucu kemenakan yang tidak lagi menghormati para datuk dan petinggi sukunya, atau petinggi suku yang tidak amanah sehingga tidak dipercaya lagi oleh cucu kemenakan. Dalam beberapa kasus, ketika beberapa per-telagahan yang terjadi dikembalikan kepada masyarakat agar dicarikan penyelesaiannya, solusi win-win tetap tidak ditemukan, bahkan cenderung memunculkan masalah baru yang lebih rumit.

Dalam perspektif budaya Melayu, sebagaimana ditulis oleh budayawan Riau, Tenas Effendy dalam bukunya "Pemimpin Dalam Ungkapan Melayu", pemimpin adalah orang yang dituakan oleh kaum dan bangsanya. "Yang didahulukan selangkah, yang ditinggikan Seranting, yang dilebihkan serambut, yang dimuliakan sekuku . Ungkapan ini dengan tegas menunjukkan, bahwa antara pemimpin dan masyarakat jaraknya hanya sekadar "didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting", sehingga mudah dijangkau dan dihubungi. Bahkan dalam ungkapan adat yang lain ditegaskan lagi, "jauhnya tidak berjarak, dekatnya tidak berantara". Dengan demikian akan terjalin hubungan yang akrab antara pemimpin dengan masyarakatnya, sebagaimana ungkapan "bagaikan aur dengan tebing".

Dalam ungkapan lain, "bila pemimpin tak tahu diri umat binasa rusaklah negeri". Ungkapan ini membawa maksud, apabila seorang pemimpin tak tahu diri, tidak tahu kewajibannya, tidak tahu tanggung jawab dan beban yang dipikulnya, tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, atau berbuat sewenang-wenang dan emosional, maka binasalah rakyat dan rusaklah negeri.

Dari berbagai konsep kepemimpinan, ada tiga aspek penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Pertama, kapabilitas (Capability) kemampuan; kedua, kredibilitas (credibility) dapat dipercaya; dan ketiga, integritas (integrity) kejujuran. Bila ketiga faktor ini telah dimiliki oleh seorang pemimpin, maka orang ini sudah termasuk pemimpin yang berkepribadian mulia, tidak hanya dalam perspektif budaya Melayu tetapi juga secara universal. Dia akan mampu membawa masyarakatnya kepada kebahagiaan dan kesejahteraan.

Konsep kepemimpinan menurut Machiavelli memang harus dihindarkan. Dalam opini Machiavelli, menjadi pemimpin adalah untuk mencari kekuasaan. Sebagaimana dielaborasi oleh Jansen H. Sinamo dan Agi Santosa dalam bukunya "Pemimpin Kredibel, Pemimpin Visioner", Machiavelli mutlak mengabaikan integritas Moral kepemimpinan ia benamkan dalam-dalam di bawah harga sebuah kekuasaan. Konsep kepemimpinan Machiavelli itulah yang membawa tragedi kepemimpinan bagi Hitler, Pol Pot, dan Milosevic, kehilangan kekuasan dan mati bunuh diri. Pol Pot dan kekuasaannya raib. Milosevic menjadi penjahat atas kekuasaannya sendiri, diburu dan diadili oleh dunia internasional. Inilah fakta yang berhadapan dengan opini Machiavelli tentang kepemimpinan.

Kekuasaan sesungguhnya diperoleh dari rakyat. Sebab dalam sebuah negara yang menganut paham demokrasi, rakyatlah yang berkuasa. Bila sang pemimpin memperoleh kekuasaan, maka kekuasaan itu haruslah

dipergunakan sebaik-baiknya untuk peningkatan kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat. "Raja adil raja disembah, raja zalim raja disanggah."


(3 November 2002)


Tulisan ini sudah di baca 218 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/143-Ditinggikan-Seranting.html