drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 2

Jangan Beri Peluru Kepada Musuh


Oleh : drh.chaidir, MM

Konon menurut dongeng, hanya Pak Pandir yang memberikan peluru kepada musuh sebab hanya Pak Pandir yang tidak bisa membedakan "laman" depan rumah dengan "laman" belakang rumahnya sendiri. Ketapel pun dipergunakannya terbalik sehingga batunya tidak mengenai tupai di dahan, tapi menghajar kepalanya sendiri. Demikian pandirnya tokoh dalam dongeng pengantar tidur ini, sehingga dia tidak bisa mengetahui konsekuensinya bila peluru diberikan kepada musuh.

Tanpa diberikan tambahan peluru saja musuh su-dah kuat, kemungkinan kita menang hanya fifty-fifty. Apalagi amunisi musuh ditambah, habislah kita. Kalau pun kita mau menang juga, kita harus mengeluarkan tenaga yang besarnya rrrruar biasa. Maka, petuah orang-orang bijak bestari menyatakan, "Jangan berikan peluru kepada musuh!"

Tapi, siapa kita, siapa musuh? Benarkah kita sungguh-sungguh memusuhi musuh? Bukankah pada saat Yang sama ketika kita mengatakan pihak lain adalah mussuh, kita juga menjadi musuh pihak lain? Ketika orang-orang muslim dituding sebagai oknum di belakang peristiwa "September Eleven" (11 September), muda-mudi Amerika kemudian justru malah giat mendalami buku-buku tentang Islam. Ketika kaum muslimin di Indonesia membenci Yahudi, K.H Abdurrahman Wahid, sebelum menjadi presiden rupanya sudah mesra dengan Israel. Sehingga ketika beliau terpilih menjadi Presiden RI yang kelima, hampir saja dibuka hubungan dagang dengan Israel. Hanya karena tekanan yang rrrruar biasa hebatnya, maka niat itu tidak kesampaian.

Salah-benar di dunia fana ini acapkali tidak lagi hitam putih. Pada sudut kesalahan adakalanya mengandung sisi-sisi kebenaran. Sebaliknya, pada sudut kebenaran pula sesekali juga mengandung sisi-sisi kesalahan. Apakah ini karena kita sudah sulit membedakan kesalahan dan kebenaran, kebaikan dan keburukan? Manusia memang sulit sekali mengalahkan hawa nafsunya. Hawa nafsu ini pulalah yang menggiring manusia untuk seringkali mengedepankan kepentingan ketimbang kebenaran.

Agaknya cerita yang ditulis oleh Kahlil Gibran boleh jadi merupakan pembenaran dari kondisi itu. Suatu hari, demikian Kahlil Gibran menulis, Kecantikan dan Keburukan bertemu di tepi laut. Mereka saling berkata, 'Marilah kita berenang ke Iaut'. Lalu mereka menanggalkan pakaian dan berenang. Setelah beberapa saaty Keburukan kembali ke tepi dan mengenakan pakaian Kecantikan, kemudian pergi. Saat Kecantikan keluar dari Iaut ia tidak menemukan pakaiannya. Karena malu bertelanjang, akhirnya ia mengenakan pakaian Keburukan. Hingga hari ini, kita tak mampu mengenali mereka satu per satu. Hanya ada segelintir orang yang mengenali Kecantikan, meskipun ia mengenakan pakaian Keburukan. Ada juga yang dapat mengenali Keburukan, karena pakaian yang ia kenakan tak mampu menyembunyikan wajahnya yang asli.

Gibran mengemas filsafat dalam cerita yang sesungguhnya ringan tetapi melintasi zaman. Semenjak dahulu kala agaknya memang sudah ada kerisauan yang panjang tentang biasnya kebaikan dan keburukan.

Hari-hari dewasa ini masyarakat kita sarat dengan konflik, entah itu vertikal atau horizontal. Entah antar-suku atau bahkan intrasuku. Rasa senasib sepenanggungan seolah menjauh. Bau permusuhan seakan ada di mana-mana. Sesungguhnya yang kita perlukan adalah aroma kedamaian, kerukunan, dan ketenteraman. Tetapi sangat mengherankan, demikian susah mencari persamaan di antara perbedaan.

Pernahkah kita saling membuat daftar panjang tentang persamaan dan perbedaan yang ada di antara kita dengan pihak lain yang menjadi seteru kita? Kalau belum, mari kita coba memulai. Buatlah daftar panjang itu dengan kebeningan hati dan kejernihan berpikir. Kemudian, daftar panjang itu suatu kali dipertemukan. Saya sangat optimis, hal-hal yang mengandung kesamaan pasti akan lebih banyak dari hal-hal yang berbeda. Agaknya sebuah kesimpulan atau kesepahaman bukanlah suatu hal yang mustahil untuk dirumuskan selama semua pihak tidak menutup mata kepala dan mata hati. Rumus tetua kita kemudian dapat diterapkan di sini, "Perbedaan yang besar dikecil-kecilkan, perbedaan yang kecil dihilangkan", bukan justru sebaliknya.

Masyarakat kita memang sedang berubah. Nilai-nilai yang dulu merupakan pegangan dalam kehidupan bermasyarakat, kini mulai longgar. Lihatlah misalnya, bagaimana cucu kemenakan tidak lagi loyal kepada Datuknya. Cucu terlalu pintar dan terlalu maju untuk dikungkung, sementara Datuk pula adakalanya suka lupa daratan dan cuai terhadap cucu kemenakan. Peluang ini tentu tercium oleh pihak lain yang suka menangguk di air keruh. Selamanya selalu saja ada pihak ketiga yang menarik keuntungan dari pertelagahan antarsesama. Sementara pihak yang bertelagah tidak mendapatkan apa-apa, yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu. Maka, jangan heran bila air tidak akan pernah dibiarkan bening, banyak yang berkepentingan untuk tetap membiarkannya keruh. Kita sudah berpengalaman diperdayai kompeni dengan taktik "devide et impera"nya. VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie - Gabungan perusahaan-perusahaan dagang Belanda untuk perdagangan di Hindia Timur) yang populer dengan sebutan kompeni itu memang sudah lama hilang dari muka bumi, tetapi pendekatan adu domba yang dipergunakannya agaknya tidak pernah mati, bahkan semakin menjadi-jadi.

Adalah sebuah ironi, melihat kekayaan sumber daya alam yang kita miliki, yang mestinya membawa kesejahteraan bagi banyak orang, sejauh ini justru membawa pertikaian dan perpecahan. Kita ternyata tidak cukup cerdas untuk memanfaatkannya. Yang mengedepan justru nuansa perebutan dengan mengusung segala yang bisa diusung, dengan menggunakan segala macam atribut. Tragisnya lagi, kita bahkan tidak segan-segan_ (atau karena rendahnya kesadaran) memberikan peluru kepada pihak lawan. Padahal kita pasti tidak akan rela4 memainkan peran sebagai tokoh Pak Pandir dalam ngeng itu.
Benar kata orang bijak. "Hampir semua orang bisa hidup tenang bersama kesalahan masing-masing, tetapi kesalahan orang lain membuat kita naik pitam".


(28 Juli 2002)


Tulisan ini sudah di baca 145 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/142-Jangan-Beri-Peluru-Kepada-Musuh.html