drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 1

Tragedi Tanah Rencong


Oleh : drh.chaidir, MM

Kisah pertentangan antara Pemerintah Indonesia dengan separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sepertinya akan sampai ke puncak. Masing-masing pi-hak terlihat saling mempersiapkan diri, karena perang sepertinya sudah menjadi sesuatu atau sebuah diplomasi akhir yang tak terelakkan. Pihak RI menuding GAM telah melanggar kesepakatan perdamaian yang ditandatangani di Jenewa, karena terbukti tidak mau menggudangkan senjata dan masih saja melakukan peiLglidudiigaii ierhauap TNI, serta berbagai kesaiahan lain. Sebaliknya, GAM justru menuding bahwa Pemerintah RI dan TNI-lah yang melanggar kesepakatan tersebut, dan memberi alasan bahwa mereka belum mau menggudangkan senjata karena Pemerintah juga belum merelokasi TNI.

Siapa pun yang akan menang bukanlah sesuatu yang harus kita pertimbangkan. Dalam konteks GAM dan RI, yang menang akan jadi arang dan yang kalah akan jadi abu, itu pun kalau kedua-duanya tidak menjadi puing dan kemudian musnah. Hal yang menyesakkan kita dari peristiwa ini adalah, bahwa perang yang akan terjadi merupakan sebuah perang saudara. Sebuah perang antara dua elemen yang lahir dari ibu dan bapak dari sejarah yang sama, sekaligus dua elemen yang sarna-sama membesarkan sejarah Indonesia itu sendiri. Kita agaknya lupa petuah orang-orang bijak, "Dalam peperangan, semua menderita kekalahan, termasuk si pemenang".

Pada satu sisi, kita tak dapat menyalahkan keinginan pemerintah untuk bertindak tegas, karena secara de jure maupun de facto, Aceh adalah bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak ada sebuah negara pun yang ingin tercabik-cabik, baik oleh kekuatan luar maupun oleh kekuatan dalam. Kita tentu sangat memahami hal itu. Dari sisi lain, kita juga akan melihat bahwa pemberontakan GAM bukanlah sesuatu yang tanpa alasan, paling tidak dalam perspektif mereka. GAM adalah generasi yang kesekian dalam sejarah pemberontakan di Aceh, yang dulu dimulai oleh Teuku Daud Baurerueh pada masa Soekarno. Pemberontakan itu pada mulanya justru berangkat dari ketidakmampuan pemerintah dalam mengakomodir berbagai kepentingan Aceh. Ketidakmampuan pemerintah itu, bahkan kemudian diperparah oleh kebijakan pemerintah Orde Baru yang menjadikan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM). Pemberlakuan DOM nampaknya dipakai pula sebagai alasan baru untuk semakin membenci Pemerintah Republik Indonesia dan TNI, karena DOM dalam berbagai versi pemberitaan melalui media massa, telah menjadikan Aceh sebagai medan pembantaian (killing field) dalam berbagai bentuk dan skala yang eksesif.

Perang saudara mungkin akan segera berlangsung, tapi kita tidak mengharapkan itu terjadi sebab kata orang, banyak yang bisa memulai peperangan, tetapi sedikit yang bisa mengakhirinya. Sebuah perang atau revolusi akan meminta korban, atau seperti yang dikatakan oleh Ali Syariati, seorang reformis Iran, akan berisi atau berakhir dengan dua hal, yaitu darah dan pesan. Andai perang di Aceh ini terjadi juga, maka masyarakat banyak akan berada pada barisan yang paling dirugikan. Darah akan berceceran di mana-mana, mengalir dari tubuh yang tertembak, juga tumpah dari hati yang tersayat. Penulis Barat, Prancis Moore, dengan ketus mengatakan, "Ketika perang usai, setelah kedua pihak lelah baku hantam, dan akhirnya berdamai, apakah sebenarnya yang diperoleh rakyat?" Moore menjawab sendiri, "Pajak, janda, kaki kayu, dan utang". Sejarah telah banyak memberikan pelajaran kepada kita, apa yang diucapkan oleh Moore itu ada benarnya.

Kita berharap sebuah jalan damai terus ditempuh oleh kedua belah pihak. Peluang untuk itu masih ada, setidaknya terungkap dalam ucapan utusan senior Joint Security Committee (JSC) GAM, Teuku Sofyan Ibrahim Tiba, "Kami siap untuk perang, tapi kami menyukai jalan damai. Pemerintah RI jangan terlalu memaksakan kehendak ...." Hal yang penuh niat damai juga disampaikan oleh pemerintah melalui Menko Polkam, Susilo Bambang Yudhoyono. jika memang benar iktikad itu maka artinya masih terbuka peluang yang sangat besar untuk menyelesaikan persoalan Aceh melalui perundingan. Kita optimis, seperti petuah orang bijak, sesungguhnya tidak ada perang yang tidak terelakkan. Kalau perang pecah juga, maka itu adalah karena manusia gagal bertindak bijaksana.

GAM dan Pemerintah RI harus kembali duduk semeja memperbincangkan persoalan bersama. Mengkaji kembali persoalan yang menjadi asal dari ihwal pertelagahan ini, dan kemudian mencari jalan penyelesaian secara lebih terhormat dan bermartabat. Perang, dengan alasan apa pun, haruslah kita hindari, karena perang hanya akan menghasilkan kesengsaraan yang tanpa batas apalagi sebuah perang saudara. Dalam sejarah perang dunia, perang saudara berpotensi menghancur-leburkan sebuah bangsa. Lebih dari itu, sejak dunia terkembang, korban perang dan penderitaan yang terbesar justru disumbangkan oleh perang saudara yang berlangsung di serata belahan dunia pada berbilang abad. Lalu, mengapa kita harus menambahnya?

Kedua belah pihak harus saling berbesar hati demi sebuah perdamaian. Berbesar hati, sebab konsekuensi dari sebuah kata "demi perdamaian" adalah berarti kemungkinan hilangnya beberapa kepentingan yang selama ini ada dan ingin dicapai, baik oleh RI maupun GAM. Jika tak ada semangat berbesar hati, maka selamanya kita akan berdiam pada sebuah rumah ego yang justru berdindingkan penderitaan. Bagi Aceh pula, jika semua elemen tidak berbesar hati, maka Aceh akan terus dicatat sebagai sebuah tragedi di tengah-tengah kebahagian orang lain. Kini pun Aceh sudah relatif tertinggal jauh dari daerah lain.

Bagi pemerintah, jika kita kembali pada Ali Syariati, maka peristiwa ini adalah sebuah pesan, bahwa pemerintah harus menjalankan tugasnya secara lebih baik. Aceh dan GAM-nya bukanlah satu-satunya pemberontakan yang pernah terjadi di Indonesia, tapi hanya satu dari banyak peristiwa yang sudah berlangsung sejak lama, seperti DI/TII, PRRI - PERMESTA, RMS, dan sebagainya. Bagi RI, pemberontakan yang banyak terjadi sejak orde lama hingga sekarang seharusnya menjadi sebuah pertanyaan bagi diri, apakah negara telah dijalankan sesuai dengan fungsi yang sebenarnya. Atau, jika merujuk pada kebudayaan Melayu, apakah para pemimpin sudah melakukan tugasnya secara baik, apakah itu tugas pemakmuran maupun tugas pemberi keteladanan.

Sekali lagi, kita berharap perang saudara tidak terjadi karena kita tak ingin menuai penderitaan dan air mata. Filipina adalah sebuah contoh kasus. Betapa penderitaan membahana ketika pertelagahan sesama saudara terjadi, yang akhirnya menewaskan Benigno "Ninoy" Aquino. Semua orang diliputi perasaan dendam antara satu dengan yang lain dan antara satu kelompok dengan kelompok yang lain, sehingga Kardinal Sin harus tampil memimpin sebuah pertemuan untuk memahami kebersamaan sambil menyanyikan lagu-lagu pujian, "..... Negeri yang telah menyerap darah, bunga, cinta, dan air mata..........."

Kita tak ingin menyanyikan lagu itu. Maka, marilah berdamai, agar kita tak menyanyikan penderitaan.


(4 Mei 2003)


Tulisan ini sudah di baca 179 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/141-Tragedi-Tanah-Rencong.html