drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 1

Dialog Lintas Kafilah


Oleh : drh.chaidir, MM

Suatu hari beberapa bulan lalu, saya kebetulan sedang berada di Sekretariat DPP Partai Golkar di Jakarta. Biasalah orang daerah, tentu kalau sempat, mampir juga ke markas partainya. Yang membuat luar biasa hari itu adalah acara pengajian yang diadakan Partai Golkar. Terus terang saya agak terkejut ketika penceramahnya adalah Alwie Shihab, Ketua Umum PKB. Dalam hati saya bertanya-tanya, ada apa ini, kena-pa Alwie Shihab, kartu truf apa lagi yang hendak dimainkan oleh Partai Golkar dan PKB. Sambil menikmati ceramah dari almukarom, saya berbisik kepada teman di sebelah. Saya mendapatkan penjelasan singkat bahwa acara pengajian ini acara pengajian rutin yang diadakan oleh Partai Golkar. Penceramahnya biasanya dari berbagai kalangan, tidak peduli berasal dari partai politik lain seperti Alwie Shihab itu. Pada saat pengajian ini kita tidak berbicara mengenai kepartaian, tapi kita berbicara tentang keagamaan, tentang akidah, tentang moral, tentang hubungan antarmanusia dalam perspektif Islam dan tentang hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Kita ini kan ibarat aki juga, sekali-sekali perlu discharge supaya kuat lagi," kata teman berbisik sambil tersenyum. Saya pun mengangguk-angguk mafhum.

Suatu kali saya diminta memberikan pidato pengantar pada dialog lintas agama yang diselenggarakan oleh NU Pekanbaru. Saya pun tiba-tiba teringat Alwie Shihab, dan momen ceramah agama di DPP Partai Golkar itu saya elaborasi sebagai ilustrasi dalam pidato saya. Agama memang dipahami selalu menjadi solusi terbaik untuk mengatasi perbedaan-perbedaan atau bahkan konflik, karena ajarannya selalu mengedepankan nilai-nilai kebajikan, kasih sayang, toleransi, dan harmonisasi bahkan juga introspeksi. Pokoknya semua yang baik-baik. Tetapi agama juga bisa menjadi penyulut konflik bila berkembang pemahaman-pemahaman sempit yang luput dicermati secara arif dan kemudian situasi diperburuk pula oleh provokasi pihak tertentu atau oleh pemberitaan-pemberitaan yang kurang proporsional dan kurang obyektif. Potensi konflik itu tidak hanya menjadi milik lintas agama, bahkan juga bisa terjadi secara internal antara penganut satu aliran atau sekte dengan sekte lainnya dalam tubuh satu agama.

Kemajemukan adalah pangkal dari segala potensi konflik ini. Milyaran manusia hidup dan milyaran manusia lagi akan terus dilahirkan oleh perjalanan waktu. Tapi, satu pun tidak ada yang sama, walau dengan teknik kloning sekalipun. Setiap orang memiliki keistimewaannya sendiri, yang satu berbeda dengan yang lain, paling tidak dalam karakter, kegemaran, dan seba-gainya. Kemajemukan atau pluralitas itu sifatnya kodrati, given. Pluralisme itu adalah kenyataan sejarah umat manusia sebab hidup ini sesungguhnya terdiri dari kafilah panjang dengan perbedaan-perbedaan dalam bentuk individu, kelompok, wilayah, suku, agama, dan bangsa. Menidakkan pluralitas samalah artinya dengan menidakkan sunnatullah. Masing-masing kafilah tidak bisa saling menguasai. Antarindividu, antarkelompok, antaragama, atau antarsuku bangsa harus memiliki peluang untuk mengatur diri masing-masing dan membangun kanal-kanal dan komunikasi satu dengan lain-nya melalui dialog-dialog lintas kafilah yang membangun.

Dalam masalah kemajemukan agama sebagai potensi konflik, Nurcholis Madjid dalani sebuah tulisannya yang dimuat dalam buku Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern, mengajukan pertanyaan, "Adakah sesuatu nilai yang mampu mempertemukan agama-agama di negeri ini sehingga membuat mereka (para umat beragama itu) tidak harus saling menghancurkan?" Pertanyaan itu dijawab sendiri oleh Nurcholis Madjid. "Jika pertanyaan itu jatuh ke tangan kelompok masyarakat yang pesimis, biasanya dengan mudah mereka segera meragukannya, malahan mengingkarinya. Akan tetapi, bila pertanyaan itu ditanyakan kepada kelompok masyarakat yang optimis, niscaya tanpa ragu secuil pun mereka akan menjawab "ada", kendatipun hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat prinsipil. Hal-hal yang lebih rinci, seperti ekspresi-ekspresi simbolik dan formalistik, tentu sulit dipertemukan". Nurcholis lebih jauh berpendapat, bahwa masing-masing agama, bahkan sesungguhnya masing-masing kelompok intern suatu agama, mempunyai idiom yang khas, yang hanya berlaku secara intern. Karena itulah, ikut campurnya penganut agama tertentu terhadap rasa kesucian orang dari agama lain, adalah tidak masuk akal dan hasilnya pun akan nihil.

Dialog lintas kafilah yang dilandasi dengan semangat kebersamaan agaknya memang kanal yang paling melegakan di tengah masyarakat yang telah bertekad untuk membangun hari esok yang lebih cerah di negeri ini. Rasa persatuan dan kesatuan serta rasa kebersamaan (societal cohesiveness), senasib sepenanggungan, ke bukit sama mendaki ke lurah sama menurun, memang sesuatu yang mutlak harus dibangun di negeri ini. Perbedaan yang ada bukan untuk saling menghancurkan, tapi untuk saling memperkuat dan saling mengisi, symbiose mutualistic. Konflik yang berkepanjangan, yang tak habis-habisnya, akan melemahkan kita. Perbedaan pendapat adalah halal dan lumrah sepanjang perbedaan itu membuat kita semakin dewasa dan produktif. Agama, apalagi, sama sekali tidak boleh menjadi faktor kontraproduktif dalam pembangunan kemasyarakatan. Keberhasilan hanya akan tercapai melalui dukungan semua unsur sesuai dengan perannya.

Apa yang tertulis di gerbang masuk Universitas Andalusia, di zaman keemasan Islam di Spanyol beberapa abad yang lampau, menarik untuk kita cermati, "Sebuah negara yang baik, didukung oleh empat hal: keadilan para pemimpin, kebijaksanaan kaum cendekiawan, keperkasaan orang-orang yang berani, dan doa orang-orang yang jujur." Jika kita menggabungkannya menjadi sebuah kebersamaan, maka kitalah kemenangan itu.

Pluralitas, sekali lagi, tak akan mungkin diganti dengan sebuah homogenitas, karena itu adalah sebuah kenyataan sejarah. Tidak ada jawaban yang mudah untuk hal ini dan tidak ada satu jawaban pun yang memuaskan semua orang.


(13 April 2003)


Tulisan ini sudah di baca 137 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/140-Dialog-Lintas-Kafilah.html