drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 1

Aktor lntelektual


Oleh : drh.chaidir, MM

Hampir setiap kali ada aksi perlawanan, baik yang dilakukan para buruh kepada pengusaha mau-pun masyarakat terhadap pemerintah, selalu muncul sebuah kata sakti, yang tidak hanya membuat pelaku aksi menjadi takut, tetapi juga menjadi semacam kartu untuk memberikan citra negatif bagi perjuangan yang sedang berlangsung. Tak jarang pula kata itu menjadi alasan bagi aparat untuk mengambil tindakan tegas. Kata itu berbunyi aktor intelektual, yang sekali waktu ia berubah pula menjadi dalang, laiu provokator, atau penunggang.

Siapa dan apakah aktor intelektual, sang dalang, sang provokator, atau si penunggang itu? Secara harfiah, ia adalah seorang atau sebuah sosok yang berada di belakang peristiwa. la bisa saja bernama pemimpin gerakan perlawanan, bisa seorang pendukung dana, bisa sang konseptor, bisa pengatur strategi, bisa orang yang rnemiliki kepentingan tertentu, dan bisa saja memang seorang penghasut profesional. Namun demikian, dengan pemahaman lain yang lebih positif, aktor intelek bisa bukan siapa-siapa, bisa bukan sosok, tapi adalah sebuah semangat kebenaran, sebuah antitesis atas ketidakadilan, sebuah kesadaran atas etika dan moral, dan seterusnya, yang jumlahnya sama dengan makna-makna negatif.

Dalam makna-makna yang negatif, aktor intelektual, dalang, atau penunggang memiliki tempat khusus dalam sejarah pertentangan antarmanusia, antarelit, dan antarkehendak untuk berkuasa. Alkisah, iblis merupakan aktor intelektual, dalang, atau penunggang terpenting yang pertama dalam drama pembangkangan manusia. Setelah mendapat hasutan dari iblis, Nabi Adam menjadi tergoda untuk melanggar peringatan Allah sehingga memakan "Buah Quldi", yang kemudian membuat Adam terusir dari surga. Hampir semua kitab menyebutkan hal ini, meskipun dengan elaborasi yang berbeda.

Bermula dari iblis, maka bermunculanlah aktor intelektual lain yang bermain dalam beragam peristiwa, pada beragam wilayah yang melintasi zaman, dan dengan beragam kepentingan pula. Dalam kisah Musa misalnya, Samiri merupakan aktor intelektual dalam penyembahan berhala sapi yang terbuat dari emas.

Dalam konsep Nasrani, Judas Iskariot merupakan dalang dari skenario penangkapan Yesus Kristus. Yazid bin Muawiyah pula merupakan aktor utama dalam peristiwa Padang Karbala. Di mata pemerintah kolonial Inggris, Mahatma Gandhi dianggap sebagai tokoh yang mengotaki perlawanan bangsa India. Osama bin Laden dituduh pula oleh Amerika sebagai aktor yang ber-tanggung jawab pada peledakan World Trade Center.

Dunia Melayu tak kurang pula meninggalkan jejak sejarah tentang aktor intelektual ini. Hang Jebat dianggap sebagai dalang dari munculnya keberanian rakyat jelata melawan kelompok raja dan bangsawan. Megat Seri Rama, yang membunuh Sultan Mahmud Marhum Mangkat Dijulang, adalah aktor regicide (pembunuhan raja oleh orang kebanyakan) pertama dalam dunia Melayu, Sultan Husin adalah dalang dari lepasnya tanah Tumasik (Singapura), dan banyak lagi. Berjela-jela paniangnya kalau nak disebut semua.

Lebih lagi di Indonesia. Kata itu seakan berada di ujung bibir dan digunakan oleh setiap rezim dan orde kekuasaan, serta selalu pula meminta korban. Dianggap sebagai penantang konsep-konsep revolusioner, Muhammad Natsir dan beberapa tokoh dikebiri hak politiknya oleh Sukarno, dan banyak pula yang dijebloskan ke penjara. Dituduh sebagai aktor intelektual peristiwa Malari, Hariman Siregar dan kawan-kawan ditangkap oleh rezim Soeharto, begitu juga nasib yang menimpa kelompok Petisi 50, dan banyak lagi kasus yang bersangkut-kait dengan kata di atas.

Setelah rezim yang represif hanyut, ternyata kata-kata di atas tidak ikut hanyut. Setiap rezim ternyata suka memakainya, terutama untuk menghadapi pihak lawan, hinggalah sekarang. Mengiringi maraknya gerakan yang menuntut pembatalan kenaikan BBM, TDl dan dan Tarif Telepon, kata aktor intelektual, dalang, provokator, atau penunggang ikut pula menggema. Sejumlah pejabat tinggi di negeri ini ramai-ramai mengatakan, bahwa ada beberapa aktor intelektual yang berada di balik aksi demonstrasi yang terjadi. Tak sedikit pula nama yang dibabitkan, mulai dari mantan pejabat tinggi negara, pimpinan partai, sampai pengusaha.

Benarkah tuduhan ini? Benarkah kesadaran dan kecerdasan bangsa kita demikian rendah, sehingga segala sesuatunya bergantung pada seseorang yang disebut aktor intelektual itu? Mungkin saja benar, bahwa memang ada orang yang mencoba bermain di balik aksi yang ada. Hanya saja terlalu naif jika penyebab semua aksi ini dialamatkan pada sesosok aktor intelektual. Aktor intelektual, dalang, atau penunggang hanya bisa menuai api jika ada yang menanam bara. Lalu, apakah baranya? Mari kita ke bilik Socrates. Pertanyaan dasarnya adalah, mengapa kita, sehingga ada pembangkang? Bukankah ketika satu jari menunjuk orang, maka empat jari yang lain menunjuk diri sendiri?

Jika kita berbuat benar, maka percayalah orang tidak terlalu buta sehingga akan melawan kebenaran. Jika kita memang memberikan kebaikan bagi dirinya, dan jika memang kita membuat kebijakan yang sesuai de-ngan kebutuhan masyarakat, percayalah masyarakat tidak akan mati-matian melakukan aksi. Tapi, ketika masyarakat melawan kebijakan yang kita hasilkan, maka ada apakah dengan kebijakan itu? Masihkah kita akan mengatakan, bahwa kebijakan kita itu benar dan mengatasi kebenaran realitas yang ada dalam masyarakat. Sebagai pelayan masyarakat, ketika berhadapan dengan penolakan, maka pertanyaannya bukanlah "mengapa engkau sehingga begini," tapi bertanyalah seperti yang dianjurkan oleh Emmanuel Levinas, "Apa salahku padamu, Sahabat?"

Dari sisi yang lain, kita memang bisa membenarkan bahwa demonstrasi mahasiswa dan masyarakat yang selama ini terjadi disebabkan oleh adanya aktor intelektual atau provokator. Tapi aktor intelektual atau provokatornya bukanlah sosok, melainkan kebijakan-kebijakan yang selama ini mendera rakyat. Jika tidak ingin masyarakat melawan, maka hentikan kebijakan publik yang sewenang-wenang, seperti perampasan tanah, hukum yang pilih kasih, pengkhianatan terhadap hajat hidup orang banyak, penganiayaan terhadap guru, pemihakan terhadap pengusaha yang nakal, dan berbagai kebijakan lain yang cenderung mengabaikan sisi-sisi kernanusiaan.

Itulah aktor intelektual, dalang, atau provokator yang sebenarnya, atau apalah namanya. Aktor intelektual bernama kebijakan yang salah ini memang harus dibatalkan atau diubah, karena berpotensi melahirkan instabilitas, kekacauan, dan perpecahan yang bisa mengancam keutuhan sebuah bangsa.

Pemerintah bukan waktunya lagi untuk main tuding. Mari sama-sama berkaca dan saling berbuat baik. Dengan demikian, hampir dapat dipastikan tidak akan ada lagi perlawanan. Jika pemerintah memandang diri sebagai Master dan masyarakat sebagai Slave, maka kita tidak akan pernah sampai kepada cita-cita, seluhur apa-pun cita-cita itu. Jika antara pemerintah tidak melakukan fungsinya sebagai pelayan yang mengarifi realitas sosial masyarakat, maka tuailah perlawanan, nikmatilah kehancuran!

(2 Februari 2003)


Tulisan ini sudah di baca 124 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/139-Aktor-lntelektual.html