drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 1

Kado Manis dari Kepri


Oleh : drh.chaidir, MM

Sebuah kado manis dipersembahkan untuk peringatan Hari Ibu tahun ini oleh DPRD Kota Tan-jung Pinang, Kepulauan Riau (Kepri), ketika mereka dengan mayoritas mutlak memberikan suaranya kepada Dra Hj Suryatati A. Manan. Dengan mengantongi 19 suara dari 25 orang anggota DPRD Kota Tanjung Pinang, Suryatati memenangkan pemilihan Walikota Tanjung Pinang secara demokratis dengan angka mutlak.

Pemilihan Walikota Tanjung Pinang vang berlangsung pada tanggal 21 Desember 2002, sehari sebelum peringatan Hari Ibu tanggal 22 Desember, beberapa hari agaknya menorehkan beberapa catatan manis bagi Suryatati. Dia terpilih sebagai Kepala Daerah pertama di kabupaten/kota yang tergabung dalam Provinsi Kepri setelah terbitnya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2002 tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau. Suryatati juga tercatat sebagai Walikota definitif Tanjung Pinang yang pertama. Yang paling monumental adalah, dia menjadi perempuan pertama yang sebagai Kepala Daerah dalam sejarah perkembangan Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau.

Oleh karena itu, dalam peringatan Hari Ibu di berbagai tempat di provinsi ini, terpilihnya Suryatati sebagai Walikota Tanjung Pinang menjadi buah bibir dan dianggap sebagai sebuah kado istimewa. Kegem-biraan ibu-ibu itu tentu bukan tanpa alasan, karena walau Megawati Soekarnoputri, Presiden Republik Indonesia adalah seorang tokoh perempuan sejati, namun secara umum kiprah perempuan di panggung politik di era reformasi ini belum begitu menggembirakan. Secara relatif justru menurun bila dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Kasus Riau misalnya. Bila dalam periode sebelumnya di DPRD Provinsi Riau masih terdapat lima orang tokoh perempuan, maka dalam periode sekarang tinggal hanya semata wayang. Gambaran serupa umumnya terlihat pula di DPRD tingkat kabupaten dan kota.

Siapa yang patut dipersalahkan dengan kondisi seperti itu? Adakah laki-laki yang selalu mencoba mem-pertahankan hegemoni, perempuan yang dianggap kalah bersaing, lembaganya yang tidak akomodatif, atau ada kambing hitam yang lain? Suatu kali dalam sebuah dialog, saya yang kebetulan hadir sebagai salah seorang narasumber dalam kedudukan saya sebagai Ketua DPRD Provinsi Riau, dituding oleh seorang peserta sebagai orang yang harus bertanggung jawab terhadap, "diskriminasi" tersebut. Tentu saja tudingan itu memancing tawa peserta lainnya, sebab adakah peran yang bisa dimainkan oleh seorang Ketua DPRD agar lembaga yang ia pimpin akomodatif terhadap perimbangan laki-laki dan perempuan? Yang mempersiapkan calon anggota dewan itu adalah partai politik peserta pemilihan umum. Kalau begitu, partai politiknya yang salah? Masalahnya juga tidak sesederhana itu. Sepengetahuan saya, setiap partai politik mempersiapkan calon anggota legislatif (caleg), terutama menjelang Pemilu 1999 yang lalu, melalui proses penyaringan dari bawah (bottom-up). Dengan demikian sesungguhnya, caleg laki-laki atau perempuan sama peluangnya untuk tersaring atau tidak tersaring oleh partai. Di samping kapasitas dan kapabilitas caleg yang bersangkutan, yang menjadi pertimbangan bagi parpol adalah apakah sang caleg "layak jual" atau tidak. Tapi, argumentasi seperti itu memang selalu tidak memuaskan, bahkan mengundang perdebatan.

Barangkali karena desakan yang demikian kuat, konon, dalam Rancangan Undang-Undang tentang Pemilu yang sekarang sedang digodok oleh DPR RI, ada wacana untuk mematok angka kuota keterwakilan bagi perempuan, sehingga ada keterjaminan gender dalam lembaga legislatif yang akan datang. Ada yang usul 20%, ada yang usul 30%, tapi ada yang ekstrem meminta 50%. Alasannya, karena populasi perempuan dalam komposisi penduduk Indonesia adalah sekitar 50%. Nah lho! Itu berarti setiap partai politik harus menempatkan caleg-caleg perempuan di nomor jadi sesuai dengan ketentuan undang-undang. Bagaimana dengan partai perempuan yang seluruh kadernya adalah perempuan?

Sesungguhnya, tidak ada model peran politik bagi seorang perempuan. Booles dan Swan menyebutkan dalam buku Power Failure, dalam satu jajak pendapat di Amerika Serikat, mereka membuat sebuah simpulan menarik dan membuat kita tersenyum. "Hampir semua pria Amerika Serikat tidak ragu-ragu bahwa mereka berhak menjadi presiden, sedangkan hampir semua perempuan bersikap sebaliknya". Agaknya benar seperti apa yang dikatakan oleh Kamla Bhasin, bahwa untuk dianggap sama dengan laki-laki, perempuan harus dua kali lebih baik daripada laki-laki. "Untungnya hal itu tidaklah sulit," katanya pede.

Masalah eksistensi peran perempuan ini memang bukan masalah antara laki-laki vis a vis perempuan. Oleh karena itu, para pakar dewasa ini lebih suka menggunakan istilah gender. Pendekatannya lebih sosiologis. Gender lebih merujuk kepada definisi sosial budaya dari laki-laki dan perempuan dan cara masyarakat membe-dakan laki-laki dan perempuan serta memberikan peran-peran sosial kepada mereka, bukan pendekatan berdasarkan jenis kelamin semata.

Ketika John Naisbitt, seorang futurist kondang, menulis pada tahun 1996 tentang delapan megatrends Asia yang mengubah dunia, orang antara yakin dan tidak, bahwa akan terjadi perubahan dari dominasi kaum pria ke munculnya kaum perempuan. Tapi Naisbitt jelas tidak sembarangan. Dia mengidentifikasi, sebagaimana dituangkannya dalam buku Megatrend Asia, bahwa di Jepang hampir semua penjual jasa jual beli mata uang asing adalah perempuan. Di Singapura pula, jumlah manajer perempuan hampir meningkat tiga kali lipat dalam dekade terakhir. Dan jangan terkejut, bila satu dari setiap lima manajer di Hongkong adalah perempuan.

Argumentasi Naisbitt diperkuat ketika ia mengelaborasi laporan Business Times Singapura. "Wanita di Asia telah jauh lebih banyak memasuki sektor bisnis, sebagian karena kurangnya tenaga ahli yang berpendidikan telah menghapuskan prasangka jenis kelamin dengan lebih cepat, dan sebagian lagi karena keluarga-keluarga bisnis telah mengakui nilai keahlian komersial kaum wanita. Karena itu, hanya dalam satu generasi saja, beberapa negara Asia telah menciptakan suatu armada wanita karir yang terus melakukan mobilitas ke atas, berwawasan global, makmur, dan ambisius. Ini jelas bukan kekuatan yang kecil". Jadi, terpilihnya Suryatati sudah diramal oleh Naisbitt, ha..ha...

Perempuan jelas akan menjadi pesaing utama laki-laki. Namun, perempuan bukan untuk dimusuhi, tapi untuk dikasihi dan dicintai, paling tidak itu menurut filsuf Friedrich von Schiller. "Hormatilah perempuan", katanya. "Mereka menjalin dan menenun mawar-mawar surgawi dalam hidup kita di dunia ini". Kita telah bosan dengan kekerasan. Kita memerlukan sentuhan mawar-mawar.


(29 Desember 2002)


Tulisan ini sudah di baca 146 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/137-Kado-Manis-dari-Kepri.html