drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 1

Pekanbaru Bertabur Bintang


Oleh : drh.chaidir, MM

Sesaat ketika matahari tergelincir, sebuah pesawat Hercules TNI Angkatan Udara mendarat dengan mulus di landasan pacu Sultan Syarif Qasim II Pekanbaru. Pesawat itu, yang terkesan gagah, bergerak pelan menuju hanggar TNI AU. Persis di depan tetamu, pesawat loreng itu memutar, kemudian berhenti. Pintu pesawat kemudian terbuka dan dari sana muncul seorang perwira tinggi berbintang empat. Inilah dia rupanya Jenderal Ryamizard Ryacudu, orang nomor satu di jajaran TNI Angkatan Darat yang kesohor itu.

Sebagai seorang Kepala Staf TNI AD, Jenderal Ryamizard Ryacudu, tentu tidak datang sendiri. Di belakangnya menyusul Jenderal berbintang tiga, Letjen Bibit Waluyo, Pangkostrad, lalu nampak pula Jenderal berbintang dua, Mayjen Ismet Yuzairi, mantan Pangdam I Bukit Barisan, kemudian beberapa Jenderal berbintang dua lainnya, dan selanjutnya diikuti oleh beberapa orang Jenderal berbintang satu, yang tidak dapat disebutkan namanya satu per satu. Jangan lupa Pangdam I Bukit Barisan, Mayjen Tri Tamtomo, seorang Jenderal berbintang dua, telah terlebih dahulu menunggu diPekanbaru. Maka tidak berlebihan bila seorang kawan menyebut hari itu, "Pekanbaru Bertabur Bintang".

Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1423 H yang menurut versi Pemerintah jatuh pada tanggal 6 Desember 2002 itu, menjadi terasa istimewa dengan kehadiran jenderal-jenderal ini. Seorang teman berbisik kepada saya, kota ini memang bertuah. Hari ini, 1 Syawal, hari bertuah, didatangi orang-orang bertuah. Saya menjawab, semoga masyarakatnya ikut bertuah.

Ada apa dengan Pekanbaru? Ada apa dengan Riau? Adakah sesuatu yang luar biasa yang menyebabkan para jenderal ini mengunjungi kota bertuah? Gawatkah Pekanbaru? Ternyata tidak. Ini hanya sebuah tradisi di jajaran pimpinan TNI untuk berlebaran dengan prajurit dan masyarakat di daerah. Sentuhan silaturahim itu terlihat, bahwa Jenderal Ryamizard tidak hanya datang dengan para jenderal dalam jajarannya, tetapi juga didampingi isterinya, puteri pertama dari Bapak Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden kita. Tentu saja Ny. Ryamizard RC tidak hanya sendiri. Ibu-ibu yang lain juga ikut mendampingi. Tidakkah mereka-mereka ini ingin berlebaran dengan anak-anak dan kerabat di Jakarta? Tentu ingin, dan itu manusiawi. Tetapi, ini kan sudah risiko jabatan. Di sini agaknya berlaku pepatah orang tua-tua, "Alah bisa karena biasa".

Pagi Idul Fitri, Jenderal Ryamizard RC beserta rombongan menunaikan shalat sunat Idul Fitri di Nangroe Aceh Darussalam bersama masyarakat dan prajurit, bersalam-salaman, dan kemudian terbang langsung ke Pekanbaru. Masyarakat tentu senang, karena untuk bersalaman dengan Jenderal Ryamizard RC, mereka tidak harus datang ke Jakarta, yang belum tentu juga dapat. Sekarang beliau sendiri yang datang. Bagi prajurit, kehadiran seorang komandan, yang sebelumnya hanya mereka kenal nama dan fotonya, bisa memberikan dorongan semangat yang luar biasa, apalagi sebagian besar dari prajurit ini jauh dari orang tua, anak, dan isteri. Lagi pula komandan itu memiliki kepemimpinan yang kuat dan kharisma, seperti Jenderal Ryamizard Ryacudu.

Di Pekanbaru, acara Jenderal Ryamizard RC beserta rombongan adalah tunggal, silaturahim. Namun, di te-ngah silaturahim tersebut, masyarakat Pekanbaru khu-susnya dan Riau pada umumnya terkejut juga ketika Sang Jenderal mensinyalir adanya empat pintu masuk penyelundupan senjata melalui Riau. Senjata-senjata tersebut diselundupkan melalui Riau ke Aceh untuk mempersenjatai GAM. Kita percaya kepada intelijen TNI-AD yang barangkali menemukan indikasi itu. Andaikan sinyalemen itu diperkuat oleh indikasi yang mengarah kepada suatu kenyataan, masyarakat Riau juga tidak perlu merasa terpojok. Namanya juga penyelundupan, pasti tidak diketahui oleh aparat keamanan dan instansi terkait di pelabuhan. Apalagi ini penyelundupan senjata, tentu didukung oleh jaringan bawah tanah yang barangkali dikendalikan dari suatu tempat, entah di mana. Operasinya tentu sangat rahasia. Kalau ketahuan, tentu saja sudah ditangkap sejak lama.

Namun demikian, andaikan jaringan itu memang ada, maka sesungguhnya itu menjadi tidak lagi signifikan dan telah kadaluarsa dengan ditandatanganinya perjanjian damai antara Pemerintah RI dan GAM di Swiss pada tanggal 9 Desember 2002 yang baru lalu. Tidak ada lagi gunanya senjata yang dibuat oleh manusia untuk memusnahkan manusia. Itu sebuah tragedi peradaban. Perang konvensional seperti itu sesungguhnya sudah lama ditinggalkan oleh bangsa-bangsa yang mampu mengapresiasi peradaban dengan baik. Perang tidak lagi diperlukan di zaman modern ini. Sebab, pe-rang itu, atau pertelagahan apa pun bentuknya, bak kata petuah orang Melayu, "yang menang akan jadi arang, yang kalah akan jadi abu".

Dalam era globalisasi sekarang, yang mengedepan sebenarnya adalah perang dagang dan perang kebudayaan. Saling pengaruh dan saling mempengaruhi tidak lagi dengan kekuatan senjata, tetapi dengan kekuatan akal pikiran. Pendudukan dengan senjata secara fisik memang nampak, tapi itu akan menimbulkan dendam berkepanjangan dan perlawanan yang tak habis-habis-nya. Pendudukan bersenjata yang dilakukan oleh Jer-man terhadap Francis di awal Perang Dunia II misalnya, agaknya layak disimak, betapa Jerman tidak mampu menundukkan hati dan pikiran para intelektual Francis yang terus saja melakukan perlawanan intelektual, walaupun itu di bawah tanah. Albert Camus, seorang pemenang hadiah Nobel Sastra, mengungkapkan perlawanan itu melalui tulisan-tulisannya di koran bawah tanah, "Combat". "Kau mungkin sudah yakin, kami yang akan menang", tulis Albert Camus, "Namun kami akan menang berkat kekalahan itu, berkat kemajuan yang panjang dan lambat yang di dalamnya kami mene-mukan justifikasi kami, berkat penderitaan yang dalam ketidakadilannya mengajarkan kami suatu hikmahr Penderitaan itu mengajari kami rahasia kemenangan-kemenangan itu. Jika kami tidak kehilangan rahasia itu, kami akan mengetahui kemenangan akhir".

Kita memang sedang mencoba mencari kebaikan yang tercecer dari pertelagahan-pertelagahan yang telah banyak menimbulkan pengorbanan darah dan air mata.


(22 Desember 2002)


Tulisan ini sudah di baca 159 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/136-Pekanbaru-Bertabur-Bintang.html