drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 1

Balada Uni Soviet


Oleh : drh.chaidir, MM

Ketika Neil Amstrong, astronot Amerika Serikat, mendarat di bulan pada 21 Juli 1969, bukan main bangganya dia karena menjadi orang pertama yang mendarat di benda alam itu. Tapi beberapa saat kemu-dian pesannya tertangkap loyo di pangkalan NASA di bumi (tentu saja di Amerika). "We are not the first", "Kita bukan yang pertama," kata Neil Amstrong. Lantas siapa yang pertama? Ternyata di bulan sudah ada pangkalan Uni Soviet, rumah makan Padang, dan isteri Yung Dolah yang sedang memanggang ikan terubuk.

Anekdot itu jelas hanya sebuah guyonan dan ceritanya bisa dibuat sera tapi fleksibel, tergantung situasi dan kondisi, dan siapa yang bercerita. Dalam cerita-cerita humor, konkurensi Amerika Serikat dengan Uni Soviet, memang selalu menjadi menu utama. Hal ini disebabkan karena pada masa dulu hanya ada dua super power di atas dunia ini, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kedua kekuatan ini memang siap tempur di segala bidang, baik di bidang politik, ekonomi, dan apalagi militer. Di berbagai front, mereka berhadapan secara fisik, seperti di semenanjung Korea, di Afghanistan, di Balkan, dan| juga di Berlin.

Bagi generasi yang lahir dan tumbuh dewasa setelah tahun 1991, Uni Soviet memang tidak lagi akrab di telinga. Sejak tahun itu, Union of Soviet Socialist Republics (USSR) atau Uni Soviet telah runtuh dan hanya tinggal nama. Kekuatan besar yang ditakuti oleh Amerika Serikat telah tamat riwayatnya. Uni Soviet, yang semula rnenguasai lebih dari separuh benua Eropa dan seperlima Asia, terpecah-pecah menjadi beberapa negara. Kecuali Republik Federasi Rusia yang masih tergolong besar, lainnya menjadi negara-negara kecil yakni Armenia, Azerbaijan, Belarus, Estonia, Georgia, Kazakhstan, Kirghiztan, Latvia, Lithuania, Moldova, Tajikistan, Turkmenistan, Ukraina, dan Uzbekistan. Negara-negara ini tidak lagi "dihitung" dalam percaturan dunia, karena apa bedanya, misalnya, dengan negara-negara kecil seperti Tibet, Laos, Ekuador, Uruguay, dan sebagainya. Mereka tidak lagi memiliki "bargaining power". Mereka akan dilirik ketika diperlukan saja, selebihnya terpaksa akan mengikuti kehendak pasar global yang dikendalikan oleh negara-negara besar yang memiliki power dan kekayaan.

Uni Soviet yang berdirinya diproklamirkan oleh Lenin tahun 1922, sebagai puncak dari kegagalan reformasi, bahkan revolusi yang menumbangkan Kekaisaran, menjadi sebuah contoh klasik betapa pemerintahan yang sentralistik dengan kekuasaan penuh ternyata bukan pilihan terbaik. Tetapi pada sisi lain juga bisa menjadi cermin. Komunitas yang berkecai-kecai menjadi negara-negara kecil, yang berjuang sendiri-sendiri, agaknya bukan pula solusi yang memiliki prospek dalam dunia yang semakin penuh dengan persaingan. Sejarah mencatat betapa powerful-nya Josef Stalin yang menggantikan Lenin, bahkan dia berhasil membawa Uni oviet menjadi pemenang Perang Dunia II. Atau Nikita Chrusychov yang naik setelah Stalin wafat. Atau pemimpin Uni Soviet kemudian seperti Kosygin dan Brezhnev. Tapi semuanya tak kuasa membendung gelombang dahsyat demokratisasi dan semangat keterbukaan yang melanda dunia. Sampai akhirnya pemimpin Uni Soviet terakhir, Mikhail Gorbachev, tidak punya pilihan selain mengikuti kehendak sejarah. Tetapi kecenderungan dunia juga mencatat, betapa kebersamaan itu diperlukan. Lihatlah negara-negara Eropa yang membuat "koalisi" dengan menyatukan mata uangnya!

Partisipasi harus menjadi ruh pembangunan, apabila "makhluk" yang bernama pembangunan itu menjadi alat untuk meningkatkan kesejahteraan yang bermartabat. Apabila kran partisipasi dibuka lebar, maka tidak ada lagi kekuasaan yang mutlak di sentra kekuasaan untuk merumuskan suatu kebijakan, melainkan setelah mendengarkan suara rakyat. Maka, elan rezim yang percaya bahwa uniformitas adalah cara untuk menyatukan perbedaan-perbedaan telah tamat. Seluruh Uni Soviet tidak bisa diseragamkan pendekatannya, walau dengan cara-cara represif sekalipun, sebab warganya lahir dan besar sebagai suku bangsa dalam satu republik. Suku bangsa Slavia misalnya, lahir dan besar di Rusia. Suku bangsa Estonia dan Latvia beranak pinak di Estonia dan Latvia. Demikian pula suku bangsa Georgia, Armenia, dan Azerbaijan yang konon emosional tapi suka humor, lahir dan berkembang di republiknya, Georgia, Armenia, dan Azerbaijan. Mereka disatukan oleh ideologi di bawah bendera Uni Soviet. Waktu itu, mereka bangga disebut warga Uni Soviet, tetapi lebih bangga lagi menyebut dirinya orang Rusia, Georgia, Latvia, dan seterusnya. Kondisi ini berbeda dengan Amerika Serikat. Walaupun mereka yang tinggal di Amerika Serikat berasal dari berbagai suku bangsa dan mereka juga bangga atas suku bangsa asalnya, tapi mereka lebih bangga menyebut dirinya orang Amerika.

Fenomena runtuhnya Uni Soviet memang menarik untuk direnungkan tentang apa-apa sesungguhnya yang membuat kita merasa berbeda dan apa-apa pula sesungguhnya yang membuat kita merasa perlu bersatu dalam kebersamaan. Alam ini memang penuh dengan rahasia, yang acapkali tidak mampu kita tangkap maknanya. Ada kecenderungan orang-orang ingin memisahkan diri dari sebuah persekutuan dan ingin berdiri sendiri dengan alasan yang tentunya mudah dicari. Merdeka sebagai suatu negara sendiri, sehingga dari satu negara menjadi dua negara, membuat provinsi sendiri, mendirikan kabupaten sendiri, dan seterusnya. Tetapi pada saat yang bersamaan, orang-orang ingin menyatu-kan diri menghadapi musuh bersama. Persekutuan seperti APEC (Asian Pacific Economy Community), NAFTA (North American Free Trade Area), AFTA (Asean Free Trade Area), MEE (Masyarakat Ekonomi Eropa), dan sebagainya adalah bentuk-bentuk lain dari kebersamaan wajah baru. Beberapa negara merasa perlu bersatu untuk saling mengisi menghadapi tantangan bersama. Masyarakat Ekonomi Eropa, misalnya, telah iebih jauh melangkah dengan menyatukan mata uang me-ka menjadi Euro. Dengan demikian, mata uang lira Italia, franc Francis, gulden Belanda, mark Jerman, dan sebagainya tidak lagi ada dan dengan demikian pula tidak ada lagi kerugian negara mereka terhadap perbedaan kurs dengan dollar Amerika. Amerika Serikat sekarang agaknya harus berpikir sepuluh kali lebih cermat dalam membina hubungan dagang dengan negara-negara Eropa.

Bargaining position dari Italia, Prancis, Belanda, ataupun Jerman jauh lebih kuat ketimbang sebelumnya, ketika mereka masih memiliki mata uang sendiri. Keadaan ini memang bertolak belakang dengan negara-negara eks Uni Soviet yang sudah hampir kehilangan bargainingnya sama sekali dalam percaturan dunia.

Belajar dari fenomena itu semua, agaknya tidaklah berlebihan bila Riau yang memiliki sumber kekayaan alam yang cukup besar ini tetap memelihara posisi bargainingnya. Semua mimpi besar kita hanya akan bisa dicapai jika semua unsur, semua elemen, dan semua kelompok pada semua tingkat dan keahlian bersatu dan saling membahu. Mengutip Frantz Fanon, inilah tanah kita, jika kita pergi maka semuanya akan musnah. Saya juga ingin mengatakan, mari kita bersatu untuk kehendak bersama yang lebih baik. Tanpa hal itu, kita tidak akan mendapatkan apa-apa.


(30 Juni 2002)


Tulisan ini sudah di baca 141 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/135-Balada-Uni-Soviet.html