drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 1

Timor Leste


Oleh : drh.chaidir, MM

Jika kadang-kadang kami tampak lebih memilih keadilan ketimbang negara kami, ini karena kami hanya ingin mencintai negara kami dalam keadilan, seperti kami menginginkan mencintainya dalam kebe-naran dan harapan. "Manusia harus mengagungkan keadilan agar dapat berperang melawan ketidakadilan eksternal, menciptakan kebahagiaan agar dapat protes melawan penderitaan," begitu Albert Camus menulis. Penulis Francis pemenang hadiah Nobel ini mengekspresikan pemikirannya yang sedang gundah gulana di bawah penaklukan Jerman dalam Perang Dunia Kedua.

Di Timor Timur tidak ada Perang Dunia, tidak ada pula sastrawan, budayawan, atau penulis besar seperti Albert Camus. Kita juga tidak tahu apakah selain pergulatan senjata dan kekerasan, di sana ada pergulatan pemikiran intelektual ala Albert Camus. Semenjak tang-gal 7 Desember 1975, hari pertama Indonesia memasuki Timor Timur dengan dukungan moril AS dan Australia, yang terdengar hanya kisah tentang tragedi kema-nusiaan. Peperangan, pembunuhan, dan pembakaran adalah aroma yang menyengat hidung. Menurut angka yang dikutip dari berbagai media massa, tidak kurang dari 5000 pahlawan kita gugur dalam "Operasi Seroja" yang terkenal itu. Ribuan pula warga Timor Timur yang menjadi korban, baik yang mengerti maupun yang tidak mengerti apa-apa.

Tanggal 20 Mei 2002, renungan Albert Camus itu, yang agaknya menjadi renungan sebagian besar warga Timor Timur, mengkristal dalam upacara peresmian ke-merdekaan Timor Timur menjadi Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) sekaligus pelantikan presidennya yang pertama, Xanana Gusmao. Bersama Sekjen PBB Kofi Annan dan beberapa pemimpin dunia lainnya, Presiden kita, Megawati Soekarnoputri hadir dalam aca-ra yang sangat penting tersebut. Memang bagi Presiden Megawati, andaikan bisa memilih, pilihan yang tersedia tidak lagi banyak. Hadir, pasti akan melukai hati keluarga pahlawan kita yang gugur di Timor Timur. Tidak hadir, apalah kata tetangga kita itu nanti. Pada-hal, mereka sudah menunjukkan iktikad baik, ketika Xanana Gusmao mengantarkan undangan langsung kepada Ibu Presiden. Tetangga kita berhelat, masak kita tidak hadir. Adakah dendam masih tersimpan. atau demikian kerdilkah jiwa kita? Di mana kebesaran hati dan kelapangan dada kita?

Sejarah tidak mungkin lagi diputar balik. Pahlawan yang gugur tidak mungkin lagi kembali. Jajak pendapat tak mungkin lagi diulang. Memang benar kata Francis Moore, "Ketika perang usai, setelah kedua pihak lelah baku hantam, dan akhirnya berdamai, apakah sebenarnya yang diperoleh rakyat? Pajak, janda, kaki kayu, dan utang". Memang pedih dan pahit. Namun, betapa pun pedihnya, betapa pun pahitnya, ini sebuah kenya-taan yang harus dihadapi. Yang lalu biarlah berlalu. Dengan demikian, kehadiran Presiden Megawati Soekarnoputri dalam acara peresmian kemerdekaan RDTL dan pelantikan presidennya dapat dipahami dan diberi apresiasi sewajarnya. Sebab sampai dunia ini kiamat kelak, Indonesia dan Timor Leste tetap saja akan bertetangga dekat. Apalah rasanya bila dua tetangga dekat berseteru sepanjang masa.

Menyusun agenda kawasan agaknya akan lebih memberikan pencerahan yang berarti bagi rakyat kedua negeri. Langkah-langkah komplementer dan saling mengisi di antara keduanya akan lebih berguna. Tapi Timor Leste kan miskin, apa yang bisa disumbangkan-nya dalam kerja sama ekonomi dan pembangunan? Pandangan ini agaknya yang perlu kita cermati secara tajam. Kondisi sekarang, ya. Mereka masih miskin dan tertinggal jauh. Tetapi dengan posisi anak bungsu yang baru sembuh dari sakit yang mematikan, segala perhatian dan kasih sayang tercurah kepadanya. "PBB akan tetap mendampingi. Semua teman di seluruh dunia akan tetap membantu", kata Kofi Annan.

Dari pertemuan kebetulan saya dengan seorang pengusaha Indonesia yang menjadi mitra pemerintah Timor Leste, sesaat sebelum RDTL lahir, diceritakan bagaimana besarnya potensi migas dan mineral di Timor Leste. Saya teringat, bukankah suatu kali pernah terjadi krisis "Timor Gap" (Celah Timor) antara Indonesia dan Australia beberapa waktu yang lalu ketika Indonesia masih berada di Timor Timur? Kata tetua kita, "Kalau tak ada berada, takkan burung tempua bersarang rendah, ya kan?" Mungkin informasi itu memang valid. Konon, potensi migas di Celah Timor ini sangat besar, sehingga lembaga keuangan yang dikendalikan oleh PBB tidak segan-segan menyediakan dana dalam jumlah yang sangat besar untuk membantu pembangunan Timor Leste. Menurut informasi, demikian dimanjakannya Timor Leste sehingga ada lembaga keuangan yang bersedia membayar terlebih dahulu pembelian migas di Celah Timor. Jumlahnya konon mencapai empat milyar US dolar, atau setara dengan hampir 40 triliun rupiah, untuk satu tahun.

Bilamana informasi ini akurat, maka bisa dibayangkan apa yang akan terjadi dengan Timor Leste: booming pembangunan. Dengan luas wilayah yang tidak sampai seluas Provinsi Bali dan jumlah penduduk yang hanya sekitar 220.000 jiwa, mereka mengalokasikan dana hampir 40 triliun rupiah per tahun. Pastilah mereka akan maju dengan sangat cepat. Apa pun akan bisa mereka bangun. Bandingkan dengan APBD provinsi se-Indonesia, kecuali provinsi-provinsi di Jawa, Kaltim, dan Riau, yang jumlahnya di atas satu triliun, provinsi lain rata-rata hanya setengah triliun per tahun.

Percepatan pembangunan yang luar biasa itu se-cara psikologis mungkin saja terjadi, karena Xanana Gusmao dengan seluruh rakyatnya tentu akan berusaha membuktikan pilihan kemerdekaan yang mereka ambil adalah benar. Mereka akan beriari sekencang-kencaugnya mengejar ketertinggalan, sedangkan kita masih terseok-seok. Energi kita pun setiap hari terkuras membenahi masalah internal. Bila kondisinya demikian, maka rasanya dalam tempo sepuluh tahun, Timor Leste sudah akan berada di depan kita dan kita bersiap-siaplah untuk belajar dari kemajuan mereka. Mengantisipasi kemung-kinan seperti ini, maka kanal-kanal perekonomian dengan hinterland Timor Leste agaknya sudah mulai harus dicermati dan dibuka.

Saya sempat berbicara dengan Jaksa Agung Timor Leste, Linggoneos Montero, untuk sekedar berbasa-basi mengucapkan selamat merayakan Hari Kemerdekaan. Dia kedengaran "sumringah" mendengarkan ucapan saya.

Kita boleh setuju boleh tidak, boleh marah boleh benci. Tetapi, nilai-nilai marwah adalah sebuah nilai universal. Tidak hanya Albert Camus dari Francis yang berhak berbicara tentang marwah, Yung Dolah dari Bengkalis, orang-orang dari Timor Leste, ataupun siapa saja juga berhak memperkatakannya.


(26 Mei 2002)


Tulisan ini sudah di baca 139 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/134-Timor-Leste.html