drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 1

"September Kelabu"


Oleh : drh.chaidir, MM

Ada dua tragedi di bulan September yang dicatat dengan tinta tebal oleh sejarah. Yang pertama, tragedi yang bikin heboh jagat raya yang dikenal sebagai tragedi 11 September 2001 atau September Eleven. Yang kedua, tragedi yang bikin heboh nusantara, yang dikenal dengan peristiwa 2 September 1985. Keduanya populer disebut September Kelabu.

September Kelabu agaknya memang julukan yang paling pas untuk kedua peristiwa tersebut. Kelabu dalam konteks ini berarti suasana duka yang tercipta akibat dari suatu peristiwa yang menyedihkan dan mengecewakan, setelah tertimpa suatu musibah. Tetapi, kelabu secara harfiah juga berarti abu-abu, yakni suatu kombinasi warna antara hitam dan putih, tidak putih tetapi juga tidak hitam.

Tragedi 11 September 2001 di New York, Amerika Serikat adalah sebuah tragedi yang sangat mengguncang dunia. Bayangkan! Dua gedung kembar pencakar langit yang diberi nama World Trade Center (WTC) Twin Tower yang menjadi kebanggaan Amerika Serikat hancur luluh lantak setelah ditabrak dua buah pesawat komersial milik maskapai penerbangan AS sendiri yang dikendalikan oleh teroris. Tragisnya, pesawat itu sedang mengangkut ratusan penumpang. Hanya dalam tempo beberapa menit saja, gedung kembar WTC yang terdiri dari 110 lantai dengan tinggi 417 meter itu rata dengan tanah. Ribuan orang tewas. Angka tepatnya tidak lagi tercatat. "Kiamat kecil" itu tidak hanya terjadi di New York. Pada jam yang hampir bersamaan, markas besar Departemen Pertahanan AS, Pentagon di Washington DC, juga ditubruk oleh pesawat komersial lainnya dengan misi yang sama.

Orang hampir-hampir tidak percaya kalau tragedi ini bisa terjadi. Bagaimana mungkin AS yang demikian canggih sistem pertahanannya, demikian ketat sistem pengamanannya dan demikian hebat jaringan intelijen-nya bisa kecolongan dan dipermalukan. Bukankah jarak waktu antara pesawat pertama yang menabrak gedung pertama dengan pesawat kedua yang menabrak gedung kedua sekitar 18 menit? Kenapa tidak dapat segera dicegah tubrukan yang kedua itu? Kenapa Pentagon yang biasanya tidak tersentuh itu demikian mudah diterobos?

Orang semakin heran ketika AS menuding Osama bin Laden sebagai otak dari semua ini. Padahal, Osama bin Laden diidentifikasi tinggal dalam "bunker" (ruang persembunyian bawah tanah) di Afghanistan, beribu-ribu mil jaraknya dari New York. Osama memang telah diketahui dunia bermusuhan dengan AS. Namun, apakah dia memiliki sistem komunikasi super canggih, lebih canggih dari yang dimiliki AS, sehingga Osama bisa mengendalikan operasi yang sangat top secret itu? Bisakah Osama mengendalikan operasi pesawat terbang bunuh diri ala "Kamikaze" itu dari bunkernya tanpa terdeteksi oleh AS?

Pada penggalan lain dari September Kelabu, 17 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 2 September 1985, tragedi juga terjadi di Riau. Berbeda dengan tragedi yang terjadi di gedung kembar WTC dan Pentagon, tragedi di gedung Lancang Kuning Riau bukan berupa bom atau pesawat bunuh diri. Walaupun bukan bom, "ledakan" di gedung Lancang Kuning ini telah membuat geger, tidak hanya Riau tetapi juga seluruh Indonesia. Bayangkan, Mayjen Imam Munandar, Gubernur Riau yang sedang berkuasa dan menjadi calon unggulan Pemerintah Pusat untuk memenangkan pemilihan dan kembali menjadi Gubernur Riau untuk periode yang kedua, dikalahkan demikian saja oleh H. Ismail Suko, calon lokal yang semula dipasang hanya sebagai calon pendamping. Istilah calon pendamping pada era itu memang demikianlah adanya. Calon pendamping adalah basa-basi politik dalam pemilihan seorang kepala daerah ketika itu. Pemilihan oleh DPRD hanya formalitas. Itu pula pada awalnya yang terbaca di permukaan pada saat pemungutan suara berlangsung. Namun makin lama pemungutan suara pada tanggal 2 September itu tidak hanya sekedar formalitas. Para anggota DPRD Riau menggunakan hati nuraninya dan suasana menjadi mencekam. H. Ismail Suko memenangkan pemungutan suara. Dia memperoleh 19 suara, sementara sang unggulan, Mayjen Imam Munandar, hanya memperoleh 17 suara. "Kalau saya tidak sedang berangkat haji, Ismail Suko akan memperoleh 20 suara", kenang Drs. H. Mujtahid Thalib, salah seorang eksponen peristiwa 2 September itu suatu ketika.

Orang juga hampir-hampir tidak percaya, bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Seorang jenderal dikalahkan oleh seorang "anak singkong". Kalau di era sekarang, kejadian seperti itu tentu bukan hal yang luar biasa. Tetapi masa itu, sistem politik sangat sentralistik dan otoriter. "A" kata pusat, "A" pula jadinya. Si Badu kata pusat, maka semua di daerah harus mengamankannya. Pemilihan Kepala Daerah semuanya diatur secara "tertib". Tidak boleh ada penyimpangan. Kalau menyimpang berarti tidak loyal kepada kepemimpinan nasional dan itu menjadi masalah yang sangat serius. Pendekatan waktu itu memang pendekatan sekuriti. Peran intelijen negara sangat kuat. Tetapi kenapa pembangkangan 19 anggota DPRD itu tidak tercium?

Kedua tragedi, tragedi WTC dan tragedi gedung Lancang Kuning, memang berbeda waktu, tempat, pelaku, dan sederet panjang perbedaan lain. Kesamaannya? Kedua tragedi ini memancing sikap pro-kontra.

Semua orang mengutuk aksi teroris yang membawa horor terhadap peradaban. Nyawa manusia seakan tidak berharga sama sekali. Tetapi ketika kekuasaan yang sangat kuat menekan si lemah dengan sewenang-we-nang, orang cenderung permissive terhadap kesalahan si lemah. Tindakan pemojokan secara tidak seimbang, memancing munculnya aksi solidaritas. Fenomena inilah yang kita saksikan ketika Osama bin Laden dikambing-hitamkan oleh AS. Maka kita lihat, Osama dianggap musuh oleh AS. Tetapi, pada saat yang bersamaan dia dianggap pahlawan di belahan lain planet ini. Jadi, wajar bila tragedi 11 September itu terlihat abu-abu. Biarlah sejarah yang akan mengadili.

Tragedi 2 September juga idem dito. Pusat dan kelompok-kelompok kepentingannya (yang kadangkala lebih galak daripada orang pusat yang sesungguhnya) yang membonceng memandang peristiwa ini sebuah pembangkangan, bahkan ada yang sampai hati mengatakan pengkhianatan. Tapi dalam perspektif daerah, ini adalah suatu bentuk perlawanan terhadap kesewenang-wenangan. Ke-19 anggota DPRD Riau itu pada saat yang bersamaan dianggap sebagai pahlawan yang mem-bela daerah. Ke-19 anggota Dewan ini menurut saya telah bertindak maju mendahului zamannya.

Kita adakalanya memang susah memetakan putih atau hitam. Kalaulah itu merupakan personifikasi dari kebaikan dan keburukan (mengelaborasi dari cerita Kahlil Gibran), hanya ada beberapa orang yang mengenali kebaikan walaupun ia menggunakan pakaian keburukan. Ada juga yang dapat mengenali keburukan, karena pakaian yang ia kenakan tak mampu menyembunyikan wajahnya yang asli.


(8 September 2002)


Tulisan ini sudah di baca 229 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/132-%22September-Kelabu%22.html