drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 0

Prakata Penulis


Oleh : drh.chaidir, MM

Tanpa terasa, pekan demi pekan, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun, terus berlalu dan kita, antara sadar dan tidak, selalu saja terombang-ambing kesana kemari dalam berbagai persoalan hidup dan kehidupan laksana lautan tak berpantai. Adakalanya kita terlambat menyadari, bahwa apa yang kita lakukan sarat dengan formalitas dan tidak memiliki kedalaman makna. Yang lebih tragis, perbuatan anak manusia itu adakalanya kontraproduktif terhadap pemanusiaan itu sendiri. Perang misalnya,terhyata tidak hanya milik kaum barbar atau kaum Gurkha, tapi juga menjadi pilihan orang-orang yang menurut akal budi telah tercerahkan, sementara kita suka terlambat menyadari. Waktu terus saja berjalan tanpa kompromi, tidak pernah tertaklukkan oleh manusia yang nisbi. Apa yang telah diucapkan Milan Kundera agaknya benar, bahwa tugas manusia bukanlah untuk menaklukkan masa depan, tapi menciptakan sejumlah kenangan yang dapat disebut dengan manis pada masa mendatang.

Tapi sejujurnya, tulisan-tulisan yang dirangkum dalam buku ini tidak dimaksudkan untuk sebuah kenangan manis seperti apa yang dimaksud oleh Milan Kundera. Tulisan-tulisan ini ada karena memang saya harus menulis, karena saya merasa perlu untuk mencurahkan apa yang terpikirkan dan apa yang terasa dalam hati. Tulisan-tulisan ini lahir sebagai sebuah obligasi moral yang tidak dapat tersampaikan secara lisan dengan utuh. Katakanlah juga itu sebagai respon terhadap stimulus yang tak pernah jera mengganggu dari waktu ke waktu. Sesekali muncul juga pertanyaan ragu dalam hati, apakah tulisan saya berguna atau tidak. Kenapa mesti bersusah payah mengajak orang lain untuk berempati atau, lebih jauh, melakukan perenungan? Kenapa mesti menyorongkan pipi, padahal hidung tidak mancung? Tetapi perasaan seperti itu tentu saja tidak relevan untuk dipelihara. Manusia boleh mati, kata Francis Bacon, tapi ia bisa memperpanjang umurnya, jika ia meninggalkan sesuatu yang "abadi", yaitu sebuah karya. Karya itu bisa bernama buku, sebuah novel, dan sah pula bila hanya sebuah puisi. Karya inilah yang bisa membuat seorang anak manusia dapat lebih bertahan ketika melawan waktu. Bacon lebih jauh mengatakan, sebuah karya atau monumen yang terbuat dari pengetahuan dan kearifan memiliki kemungkinan bertahan lebih besar dari hasil-hasil karya yang lain, semisal berupa monumen is tana, candi, ataupun sebuah kota.

Suatu kali ketika saya diundang untuk menjadi salah seorang pembicara dalam sebuah seminar, seorang pembicara lain berbisik kepada saya, mengatakan dia telah membaca buku saya (Berhutang Pada Rakyat dan Panggil Aku Osama). Buku tersebut dia beli di toko buku. Terus terang, hati saya berbunga-bunga. Pembisik itu saya anggap mewakili seribu pembisik lainnya dan itu membuat saya bertekad akan terus menulis selama saya masih sanggup untuk melakukannya.

Saya kemudian menemukan justifikasi yang memperkokoh keyakinan saya setelah membaca buku James W. Pennebaker, "Ketika Diam Bukan Emas". Saya menemukan justifikasi, mengapa harus menulis dan mengapa harus menerbitkan buku. Pennebaker menyimpulkan risetnya bahwa mencurahkan isi hati (self disclosure) dapat berpengaruh positif bagi perasaan, pikiran, dan kesehatan tubuh. Membuka diri amat gampang caranya, berbagilah dari hati ke hati kepada orang yang anda percayai! Atau yang lebih baik lagi, tuliskanlah secara bebas isi hati anda!

Pada bagian lain, waktu, membisikkan kepada kita, bahwa tradisi menulis dalam sejarah Melayu adalah catatan sejarah yang diukir dengan tinta emas. Jika menyingkap bilik sejarah Melayu Riau, maka kita dapat menyaksikan dan merasakan bahwa gemuruh agenda intelektual itu sudah berlangsung sejak lama. Kejayaan Melayu Riau terbilang bukan tersebab agenda politik, ekonomi, atau militer, tapi oleh agenda kebudayaan yang sarat dengan supremasi inteletualitas. Tanda sejarah itu diberikan melalui kehalusan budi pekerti dan kesantunan tutur bahasa. Ketinggian dan keranggian budaya itu terlihat, misalnya, bagaimana seorang sastrawan dan budayawan Raja Ali Haji mampu menghasilkan sebuah master peace Gurindam Duabelas dan berbagai karya lain. Kegemilangan itu terus berlanjut dengan munculnya sastrawan Suman HS sebagai salah seorang pembaharu sastra Indonesia, kemudian muncul pula pengarang perempuan Selasih Seleguri dan penyair-penyair lain yang terbilang nama, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah, BM Syamsuddin, Idrus Tintin, Hasan Yunus, dan lain-lain.

Kegemaran menulis memaksa saya untuk membaca, dan yang lebih penting adalah, kegemaran itu saya rasakan mampu mengawal saya memposisikan diri dalam keseimbangan peristiwa material dan spiritual, sekaligus barangkali juga meredakan kegelisahan-kegelisahan akibat perusakan-perusakan eksistensi manusia modern yang agresif, materialistik, dan kejam. Benturan itu, sadar atau tidak, berlangsung setiap saat di sekeliling kita seakan tak terdamaikan. Kegemaran itu barangkali dapat diparidang pula—dan saya tidak keberatan—sebagai sebuah pelarian dari peran di panggung kekuasaan yang problematikanya nyaris tak terpikulkan. Peran itu oleh sementara kawan-kawan yang telah tercerahkan diang-gap aneh. Saya dapat memahami bila itu menjadi sebuah prasangka. Keseluruhan tulisan dalam buku ini memang ditulis pada saat saya menempati posisi sebagai Ketua DPRD Provinsi Riau, posisi yang pada masanya banyak disorot karena kekuasaannya cukup besar sehingga seringkali dipandang dengan sinisme yang berlebihan. Publik yang telah memperoleh pendidikan politik selama era reformasi menyadari bahwa lembaga legislatif meru-pakan pusat kekuasaan baru di samping lembaga lainnya, dimana benturan demi benturan kepentingan tak terelakkan, sementara setiap penghujung pekan saya menulis refleksi-refleksi yang beberapa diantaranya mengandung pesan.

DPRD, lembaga dimana saya berkiprah, adakalanya terasa dekat dengan rakyat, namun tempo-tempo terasa jauh, laksana sebuah menara gading. Wakil entah ke-mana, konstituen entah dimana, masing-masing jalan sendiri. Masyarakat pula pada sisi lain, agaknya adalah masyarakat yang anomi. Disorganisasi hubungan antar manusia adakalanya tertangkap dengan mudah, karena menampakkan diri dengan vulgar, namun adakalanya tersembunyi, terasa ada terkatakan tidak. Gejala ketidak-seimbangan psikologis yang dapat melahirkan perilaku sosial menyimpang dalam berbagai manifestasi selalu menarik perhatian saya dan membuat saya terusik untuk menulis.

Di tahun-tahun awal abad ke-21 ini, kita nampaknya akrab dengan terma-terma keterbuangan, keterasingan, kebencian, dendam, bahkan benturan-benturan kepentingan yang sepertinya tak terdamaikan. Pertanyaan yang selalu mengusik adalah, adakah tahap ini memang harus kita lalui sebagai sebuah episode kehidupan masyarakat yang sedang berubah? Tidak ada yang bisa membantah, pembahan masyarakat, kebudayaan, dan peradaban memang sedang berlangsung. Masyarakat kita umumnya tidak lagi dapat disebut sebagai masyarakat primitif, masyarakat tradisional pun tidak. Masyarakat kita sesungguhnya sudah maju. Namun, beriringan dengan kemajuan dan perubahan yang cepat itu, proses akulturasi pun berlangsung cepat, bahkan terkesan anomi. Pada sisi lain, kita belum menemukan formula yang tepat bagaimana mengantisipasinya.

Dengan segala keterbatasan, saya memaksakan diri memotret kejadian demi kejadian, kisah demi kisah anak manusia itu dalam bentuk refleksi ringan setiap pekan di Tabloid Mentari yang saya pimpin. Sudah barang tentu tulisan ini sepenuhnya dalam sudut pandang saya. Redaksi tidak pernah bisa menolak, betapapun buruknya tulisan yang saya susun. Tanpa terasa, pekan demi pekan, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun pun berganti, halaman Minda Kita di tabloid Mentari telah menjadi milik saya seutuhnya. Redaksi boleh menggarap halaman lain tapi halaman Minda Kita adalah halaman khusus untuk tulisan saya. Halaman itu milik "raja".
Kesulitan muncul ketika tulisan saya yang berserakan itu hendak dibukukan. Temanya terlalu bervariasi, mulai dari Warung Berkelambu di kaki lima kota Pekanbaru, Balada Huzrin Hood, Fenomena Inul, Evita Peron, Piala Dunia Sepak Bola, sampai perseteruan Amerika dengan Saddam Hussein. Tak ketinggalan pula guratan nasib Laleh dan Ladan. Tulisan "suka-suka" itu entah masuk kategori apa, saya pun tidak tahu. Mungkin yang paling tepat memang masuk kategori "suka-suka", dan oleh karenanya membaca buku ini jangan terlalu serius, baca sajalah di kala senggang!

Keseluruhan tulisan yang saya tulis setiap pekan dalam periode Mei 2002 sampai dengan pertengahan September 2003, dengan bersusah payah, akhirnya dikelompokkan dalam enam bagian. Namun, pengelompokan ini pun tidak mungkin hitam putih. Bagian Pertama dengan tajuk "Meneroka Politik Lokal", memuat tulisan-tulisan ringan yang merupakan refleksi berkaitan dengan tingkah polah masyarakat dalam memberikan apresiasi terhadap gelombang transparansi dan demokrasi di tengah masyarakat yang berbilang kaum dan sedang mengalami turbulensi. Hidup kita ini terdiri dari kafilah-kafilah yang berbeda, dan daftar perbedaannya bisa panjang, mulai dari perbedaan individu, kelompok, suku, puak, agama, bangsa, dan juga kepentingan. Perbedaan-perbedaan itu akan menjadi sumber pertelagahan bila tidak disikapi secara bijak dan cerdas. Tidak ada resep apapun yang ditawarkan. Catatan-catatan ini tidak lebih dari sekadar ajakan untuk saling mengingatkan.

"Romantika Manusia" yang merupakan tajuk pada Bagian Kedua, memuat catatan-catatan tentang hidup dan kehidupan manusia. Dalam tajuk ini, ada Warung Kelambu, ada Inul yang fenomenal, dan ada pula refleksi tentang Kadar Laleh dan Ladan, dua gadis Iran yang kembar siam. Entah pesan apa yang diusung oleh Laleh dan Ladan. Tapi yang jelas, tak ada seorang manusia pun yang tahu tentang buku takdirnya, termasuk Laleh dan Ladan, juga Inul. Ada manusia yang dilahirkan dengan keberuntungan, ada yang tidak beruntung. Ada juga manusia yang dilahirkan untuk menjadi contoh peringatan bagi yang lain, apa pun bentuk peringatan itu.

Bagian Ketiga dengan tajuk "Tak Melayu Hilang di Bumi", adalah bagian yang banyak bercerita tentang balada Riau dan oleh karenanya barangkali sedikit berbau subyektif. Tajuk ini pun sengaja saya kutip dari ucapan Hang Tuah yang terkenal itu, "Tuah Sakti Hamba Negeri, Esa Hilang Dua Terbilang, Patah Tumbuh Hilang Berganti, Tak Melayu Hilang di Bumi". Secara antropologis, etnis Melayu agaknya tak akan pernah hilang dari bumi, tapi kalau hanya sekadar menjadi mentimun bungkuk, dimasukkan tidak menambah, dikeluarkan tidak mengurangi, itu akan sangat menyedihkan dan menyakitkan. Rasanya tidak akan ada satu puak pun membiarkan dirinya selalu menjadi pecundang. Kompleksitas Riau agaknya menarik untuk dicermati sebagai perbandingan bagi daerah lain. Andaikan Riau tidak kaya akan sumber daya alam, mungkin tidak akan pernah ada perusakan alam, limbah, dan marjinalisasi, Entah sampai kapan, peribahasa Ayam bertelur di lumbung padi mati kelaparan atau itik berenang mati kehausan, tidak lagi relevan untuk diucapkan di Riau. Ungkapan laut sakti rantau bertuah, yang agaknya tepat menggambarkan betapa besarnya potensi Riau, seringkali menjadi sumber inspirasi bagi saya dalam menuangkan catatan-catatan akhir pekan di halaman Minda Kita itu.

Bagian Keempat bertemakan "Komunikasi Budaya". Bagian ini memuat beberapa catatan betapa dialog kebudayaan menjadi sesuatu yang tak boleh diabaikan. Kemiskinan komunikasi amat berpeluang menimbulkan mis-komunikasi yang akhirnya akan dapat menimbulkan asumsi-asumsi yang salah, prasangka, atau bahkan fitnah. Kebudayaan memang harus didialogkan secara cerdas untuk membangun saling pengertian antar kafilah-kafilah kehidupan yang tidak akan pernah bisa dibuat seragam. Orang Melayu sudah sejak dulu memberikan apresiasi terhadap keberagaman masyarakatnya. Hal ini tergambar dari ungkapan adat "Adat hidup orang Melayu, puaknya banyak hatinya satu". Ungkapan lain menjelaskan, "Apa tanda Melayu terpuji, berlain bangsa sepinggan nasi, atau dikatakan, "Apa tanda Melayu bertuah, berlainan suku hidup serumah", atau "Apa tanda Melayu ternama, berkawan tidak memandang bangsa". Komunikasi budaya yang berlatar ketulusan dan kearifan akan membangun silaturahmi lintas kafilah.

Bagian Kelima bertemakan "Tragedi Negeri 1001 Malam". Tema ini sebagian besar saya tulis dari keprihatinan saya terhadap Perang Teluk, ketika Amerika dan Inggris memaksakan kehendaknya menumbangkan Saddam Hussein, Presiden Irak yang sah, apapun alasannya. Waktu kelihatannya akan membuktikan tuduhan. bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal tidak terbukti. Waktu juga mencatat, pendudukan Irak oleh Amerika, agaknya belum akan mengungkai masalah. Hari demi hari pasca perang, korban masih saja berjatuhan, entah sampai kapan. Sementara Saddam entah dimana rimbanya. Secara fisik, tanpa perlu rekayasa genetika, orang-orang Arab umumnya memiliki kemiripan wajah dan ini menyulitkan bagi suku bangsa lain untuk langsung membedakannya dari sebuah kerumunan. Sama halnya, misalnya, bila bangsa lain melihat orang-orang suku bangsa Cina, susah membedakan mana David Lee yang asli dan mana yang bukan. Tulisan dengan judul 2001 Saddam, yang kemudian saya ambil menjadi judul buku, kira-kira bermakna mati satu tumbuh seribu. Negeri Irak sudah beberapa kali hancur, sebut saja misalnya ketika Hulagu, keponakan Jengis Khan, menaklukkan Baghdad, atau kemudian pada abad yang berbeda ketika Timur Lenk dari Mongolia menyerbu dan menghancurkan Baghdad. Agresor demi agresor silih berganti menghancurkan Negeri 1001 Malam itu, tapi sejarah mencatat negeri itu kembali bangkit. Lalu apa bedanya dengan pasukan George W. Bush dan Tony Blair? Saddam Hussein bisa saja hancur dihantam rudal Amerika dan Inggris, kemudian dipaksakanlah berdirinya rezim boneka di Irak. Tapi, sampai kapan rezim itu akan bertahan, seratus tahun, dua ratus tahun, atau seribu tahun? Sejarah akan mencatat, seperti yang dicatat terhadap Hulagu dan Timur Lenk itu. Bahkan, pada hemat saya, Bush dan Blair justru telah menyemai Saddam di Irak dan di bagian dunia lainnya akan segera tumbuh 1001 Saddam yang mungkin akan lebih Saddam daripada Saddam.

Bagian Keenam bertemakan "Keadilan yang Tersembunyi". Tema ini memuat beberapa tulisan sebagai catatan refleksi potret apresiasi masyarakat terhadap kesadaran berkonstitusi dan kesadaran hukum. Pembangunan kita, disadari atau tidak, terlalu banyak mengedepankan gairah material sehingga cenderung menjadi sesuatu yang anomi, bahkan memangsa anak-anaknya sendiri. Pembangunan ekonomi misalnya, jika tidak dibingkai dengan keimanan dan kebudayaan yang kokoh akan mengarah kepada homo homini lupus. Pembangunan hukum pula, hanya berfungsi sebagai penghakiman, bukan penyadaran. Rasa keadilan masyarakat sering ter-abaikan. Gerakan reformasi untuk menata ulang berbagai aspek dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara memang belum tuntas. Kita memang masih berada dalam masa transisi yang panjang, entah sampai kapan. Tetapi, itu bukan merupakan excuse bagi kita untuk tidak menegakkan supremasi hukum. Di samping etika dan akhlak, supremasi hukum itu menjadi ruhnya reformasi. Kita tentu tidak ingin masyarakat mencari keadilan yang tersembunyi dengan cara lain.

Dengan diterbitkannya kumpulan tulisan ini, saya harus menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada kawan-kawan di Tabloid Mentari yang telah bekerja keras sehingga Mentari tetap eksis dan saya me-miliki wahana untuk berekspresi. Acapkali dengan sabar mereka terpaksa menunggu saya mengetik menyelesaikan tulisan untuk Minda Kita. Anggap sajalah buku ini sebagai kado ulang tahun yang kedua Tabloid Mentari.

Saya juga merasa berhutang budi pada teman-teman, para praktisi hukum, para aktivis LSM, para penyair, terutama rekan-rekan wartawan yang selalu mengkritisi dan memberikan komentar terhadap tulisan saya. Dari perdebatan kita, seringkali saya menemukan gagasan dan dorongan motivasi untuk terus menulis. Kepada penyair dan budayawan muda Melayu, Syaukani Al Karim, yang sering meminjami saya buku dan bahkan tidak jarang memberikan kontribusi gagasan dan ilustrasi yang tak ternilai, dari lubuk hati yang dalam, secara khusus saya menyampaikan ucapan terima kasih.

Ketulusan dan pengertian orang yang paling dekat dengan saya, isteri saya Hj. Yulianti, SH dan anak-anak, Rimba, Lingga, Hanna, dan si bungsu Chaleed, yang selalu mau berkompromi membiarkan saya berjam-jam di ruang kerja sangat mengesankan. Kadang-kadang saya merasa berdosa telah menyita waktu yang seharusnya saya peruntukkan bagi keluarga. Saya merasa mendapat dorongan yang luar biasa ketika Chaleed, kelas dua SD, dengan bangga membaca namanya tercantum dalam buku yang ditulis papanya.

Kesediaan Prof. Dr. Tabrani Rab untuk memberikan kata pengantar sungguh membanggakan. Prof. dr. Tabrani Rab dalam pandangan saya adalah seorang tokoh yang brilian dan unik, bukan karena dia adalah seorang Anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dan Calon Presiden RI dalam Konvensi Partai Golkar, tapi karena dia adalah seorang mahaguru yang amat sangat produktif. Dia bisa menulis kapan saja dan tentang apa saja dengan tulisan yang selalu tajam, menukik, dan menggelitik. Untung, profesor kita ini belum lagi melewati demarkasi (walaupun sudah hampir). Sebab, kalau melewati tentu sudah dikelompokkan ke dalam "The odd man out". Oleh karena itu, menurut pandangan saya, dia paling cocok untuk memberikan komentar suka-suka terhadap buku kumpulan tulisan yang juga lebih bersifat suka-suka ini. Sejujurnya, Prof. dr. Tabrani Rab telah menuliskan sebuah pengantar yang impresif. Seperti tiga buku sebelumnya (Suara Dari Gedung Lancang Kuning yang diberi pengantar oleh Prof. Dr. Muchtar Ahmad, Berhutang Pada Rakyat yang diberi pengantar oleh Prof. Dr. Ichlasul Amal, dan Panggil Aku Osama yang diberi pengantar oleh Ashadi Siregar), buku 1001 Saddam ini pun menjadi menarik karena tokoh yang menuliskan kata pengantarnya. Oleh karena itu, dari lubuk hati terdalam, saya menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada "Ongah" Tabrani.

Kepada sohib saya, Fratello H. Mahyudin Al Mudra, SH., MM (dan isterinya, Ir. Hj. Tuti Sumarningsih, ST., MT), pimpinan Penerbit Adicita Karya Nusa, Yogyakarta, saya selalu merasa tersanjung dengan apresiasi anda berdua terhadap naskah saya. Grazie molto per tutti, Frat. Grazie. Saya tidak peduli itu berlebihan atau tidak. Yang pasti, komentar anda berdua menjadi motivasi saya untuk terus berkarya dan membuat saya awet muda. Sulit bagi saya untuk mencari ungkapan yang tepat sebagai tanda terima kasih atas kesediaan Anda mengoreksi secara teliti seluruh naskah saya. Saya tahu Anda beserta seluruh staf yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu telah bertungkus lumus menyelesaikan penerbitan buku ini. Bravo, Frat. Saya berhutang budi pada Anda semua.

Saya berharap para pembaca buku ini bisa menikmati perasaan yang mengiringi tulisan demi tulisan, walaupun itu ringan dan tidak memiliki kedalaman. Yang baik sila ambil, yang buruk sila tinggalkan.

Pekanbaru, Januari 2004


Chaidir


Tulisan ini sudah di baca 171 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/131-Prakata-Penulis.html