drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 0

Catatan Pengiring:


Oleh : Prof. Dr. Tabrani Rab, M.A

Ketika itu, 1 Ramadhan, puasa pertama. Chaidir datang membawa bukunya yang akan terbit, 1001 Saddam, menyusul tiga bukunya terdahulu, Suara Dari Gedung Lancang Kuning, Berhutang Pada Rakyat, dan Panggil Aku Osama. Tentu saja, Ketua DPRD yang berlatar belakang perguruan tinggi ini mempunyai identitas tersendiri dengan warna intelektual di tingkat Riau khususnya dan tingkat nasional umumnya. "Bang! Buku yang satu ini saya mintakan kata pengantar dari Abang", ungkapnya kepada saya. Padahal, kelas tiga tokoh yang mengantarkan tiga bukunya terdahulu, Prof. Dr. Muchtar Ahmad pada buku Suara Dari Gedung Lancang Kuning, Prof. Dr. Ichlasul Amal pada buku Berhutang Pada Rakyat, dan Ashadi Siregar pada buku Panggil Aku Osama, tentu jauh lebih tinggi dari saya. Untunglah, Chaidir mengangkat saya setinggi langit dalam Sekapur Sirih. Saya dinyatakan oleh penulis sebagai sosok brilian dan unik. Kami pun berbicara panjang lebar, bagai laut yang tak bertepi.

Malam hari sebelumnya, tepatnya malam 1 Ramadhan, kebetulan saya menonton Lawrence of Arabia, sebuah film yang bercerita tentang kisah kehidupan seorang petualang Inggris yang berhasil membangkitkan Revolusi Arab terhadap Turki. Dalam film ini, Omar Sharif dan Anthony Quin yang berperan sebagai orang Arab pendamping Lawrence berhasil mengalahkan tentara Turki yang jumlahnya tiga setengah kali lebih banyak dari tentara Arab. Namun, kemenangan Arab tersebut berakhir dengan permulaan kepahitan: kering-kerontangnya air Damaskus, matinya listrik, layanan rumah sakit yang buruk, dan tentu saja ujung-ujungnya, gonjang-ganjing pemerintahan Arab di Palestina yang hampir merupakan penderitaan tanpa batas. Aksi Lawrence of Arabia bersama orang-orang Arab untuk menghancurkan Turki yang sama-sama bergama Islam kemudian dikenal dengan Revolt in Desert. Kekuatan Arab ini berhasil menghancurkan 14.000 prajurit Turki yang mempertahankan rel kereta api Madinah - Damaskus, hanya dengan satu kata, "No prison!" (Bunuh semua!). Sang Lawrence memekikkan kata ini di hadapan 4.000 tentara Arab.

Bagaimana tanggapan Abdullah, putra kedua Hussein, penguasa Mekah yang kelak menjadi Raja Jordan? "Dewan Arab ini hanyalah pemerintahan sementara yang akan membawa kesengsaraan bagi orang Arab." Faisal, putra ketiga Hussein yang ditunjuk oleh Inggris menjadi Raja ketiga di Irak juga menyatakan hal yang sama. "Dewan ini kelak akan mengantarkan bangsa Arab ke dunia gelap gulita." Di bagian lain jazirah Arab, bangsa Yahudi di bawah pimpinan PM Inggris, Deseraili, seorang Yahudi tulen, membuat rencana besar dengan Allenby, atasan Lawrence of Arabia. "Palatin (Palestina) adalah Kan'an, tanah yang dijanjikan untuk Yahudi." Ketika Mahathir menyatakan bahwa Yahudi sebagai perusak dunia Islam, maka akar permulaannya adalah Lawrence of Arabia dan terlukanya Islam karena terjadinya peperangan antara Arab dengan Turki. Kebijakan Allenby ini menjadi dasar bagi Deseraili, sang PM Inggris yang Yahudi, untuk mengoyak-oyak dunia Arab. Kondisi inilah yang juga ditulis oleh Chaidir dalam 1001 Saddam.

Chaidir dalam 1001 Saddam berusaha untuk mengangkat kembali sebuah siklus Lawrence dan Faisal ketika mengalahkan Turki. Terbukalah peluang serangan Bush dan Blair terhadap Saddam dan Irak, sementara Palestin yang dibuahkan Abdullah dan anaknya Raja Hussein menjadikan Palestina neraka bagi Arab. Maka, pembantaian Arab di Palestina oleh bangsa Yahudi dan pengobrak-abrikan Saddam dan Irak oleh Bush dan Blair menyebabkan Chaidir berteriak dalam 1001 Saddam. Namun, jalan sejarah tak selurus rencana Bush dan Blair. Irak telah diramalkan menjadi Vietnam kedua dan menyebabkan Bush berpikir dua kali sebelum menyerang Iran dan Korea Utara, dua negara yang dituduh sebagai negara nuklir.

Dalam mengantarkan buku 1001 Saddam ini, saya juga teringat pada kisah seorang tokoh film bernama Nash. Ahli matematika dan numerical dari Princenton University Amerika yang memenangkan hadiah nobel untuk bidang matematika ini harus menempuh jalan yang betul-betul gila (schizophren), hanya untuk membuktikan antara kegilaan dan ketepatan matematika yang diturunkan oleh Einstein, E=mc2. Kegilaan dan ketepatan matematika ini dalam sejarah manusia kemudian diteruskan oleh Bill Gate, perancang Microsoft, sehingga anda dapat membawa komputer ke tempat tidur dan hanya perlu pergi ke ATM bila anda memerlukan uang.

Dalam kedua kegelisahan, yakni kegelisahan Einstein dengan presisi serta prediksi yang pasti dan kegelisahan fluktuasi politik lokal maupun dunia karena distorsi yang terus-menerus akibat gesekan-gesekan sosial, muncul ide Chaidir untuk melahirkan 1001 Saddam, dimulai dari Meneroka Politik Lokal yang langsung dirasakan oleh Chaidir, baik karena interaksi kemanusiaan yang dalam maupun gesekan-gesekan sosial dengan alam dan tradisinya sendiri. Fenomena Inul sebagai simbol keluh kesah Chaidir tak dapat dinafikan. Tak Melayu Hilang di Bumi ditutupnya dengan teori keseimbangan antara politik yang mapan dan lahirnya puisi dan balada. Dalam Tak Melayu Hilang di Bumi, Chaidir hendak mengungkapkan hal penting, art longa vita brevis (hidup ini sangat pendek dan seni itu abadi). Tapi, dalam komunikasi budaya, Chaidir tidaklah mengupas akulturasi, akan tetapi menggodoknya. Don't Cry For Me Argentina yang merupakan warna tersendiri dalam 1001 Sadam sampai Sindroma Inul. Fenomena Inul sendiri diwakili oleh dua judul dalam buku ini, "Andaikan Ada Inul" pada bagian kedua dan Inul Syndrome pada bagian keempat. Barulah tulisan itu menukik pada Tragedi Negeri 1001 Malam di bagian kelima. Khusus 1001 Saddam pada halaman 252, Chaidir meratapi Laila Majenun (dongeng malam dari tanah Arab).

Saya kira, dari 1001 Malam inilah muncul ide 1001 Saddam. Chaidir mencoba menarik sejarah Babilonia hingga kisah Saddam, kemudian menuliskan Bush dan Blair sebagai tak lebih dari Hulagu dan Timur Lenk yang menghancurkan Baghdad. Sayangnya, ketika tulisan itu diturunkan, Bush belum berhadapan dengan demonstrasi dalam negeri yang dapat menyebabkannya mengikuti langkah Nixon. Vietnam kedua mungkin muncul di Irak. Hotel Al Rasyid telah menjadi saksi. Politik memang susah diprediksi.

Dalam bagian keenam, Keadilan yang Tersembunyi, Chaidir tak dapat menafikan humankind is one. Muncul keinginan untuk melahirkan keadilan dan menyatakannya dengan jelas. Korupsi ulama berupa ketidakpedulian, korupsi penguasa berupa ketidakadilan, dan korupsi kaum sufi adalah kemunafikan. la menutup dengan sebuah ungkapan indah. "Tugas manusia memang bukanlah menaklukkan waktu, tapi menciptakan sejumlah kenangan yang dapat disebut dengan manis pada masa datang."

Pengalaman penulis 1001 Saddam yang begitu luas sebagai hasil perjalanan panjangnya membuka mata kita. Kegelisahan antara dunia yang dilihatnya dengan lingkungan hidup dan prediksi-prediksi yang melenceng menyebabkan Chaidir selalu berada dalam distorsi. Untungnya, ia menemukan jalan keluar. la menampakkan tembok kegelisahan itu dengan pikiran jernih dan menulisnya dalam 1001 Saddam. Buku 1001 Saddam yang ditulis oleh Chaidir ini juga tak terlepas dari pendekatan psikologi sosial. Memakai istilah CG. Young, inovasi selalu lahir dari pemikiran kolektif alam bawah sadar. Inovasi ini puiaiah yang meiahirkan distorsi sampai ditemukannya suatu konvensi yang baru atau kembali ke konvensi yang lama. Akan tetapi, berapa lama distorsi ini terjadi? No body knows.

Keadaan tersebut merupakan peristiwa yang diangkat oleh Chaidir, seorang intelektual yang menceburkan diri dalam legislatif. Tidaklah berlebihan jika Sartre menggambarkan keintelektualan berakhir begitu pemikiran bebas diantukkan ke tembok, entah tembok eksekutif atau tembok legislatif. Akan tetapi, yang pasti, kebebasan intelektual ini harus terbenam, menyesuaikan nada legislatif. Oleh karena itu, kegelisahan akibat distorsi yang berkepanjangan merupakan benang kusut yang tak berujung. Distorsi ini telah melahirkan ide-ide Chaidir dalam Suara Dari Gedung Lancang Kuning, Berhutang Pada Rakyat, dan Panggil Aku Osama. Kini, muncul 1001 Saddam.

Kegelisahan antara prediksi matematik dan permainan menara gading dari fenomena sosial dicurahkan Chaidir dalam karya-karyanya. Sekali menyala, api kegelisahan itu tak akan pernah padam. Antara dunia luar yang dilihat dan fenomena sosial yang dibaca, dimana Chaidir mengabdi, menyebabkan munculnya kegelisahan. Kegelisahan itu tercurah dalam 1001 Saddam. Suatu saat, saya pernah mendengarkan ceramah pertamanya di Universitas Riau setelah kunjungannya ke Korea. "Jalannya lebar-lebar dan kukuh", begitu salah satu uraiannya dalam ceramah itu. Saya tahu bahwa kegelisahan ini tak pernah berhenti dalam diri Chaidir, karena dia melihat kenyataan di sekelilingnya yang tak seperti harapannya di Korea. Ketidakseimbangan perbandingan ini menyebabkan kegelisahan Chaidir bermuara pada sebuah pertanyaan, apa yang sebenarnya terjadi pada bangsa ini?

Wawasan Chaidir yang sangat luas menerawang fenomena dunia dalam komumkasi budaya dan kemudian menukik ke rutinitas yang terjadi sehari-hari di lingkungannya menyebabkan Chaidir lahir sebagai penganut ucapan Descartes, Cogito Ergo Sum. Saya berpikir, karena itu saya ada. Walaupun membayangkan penulisan sebagai usaha memperpanjang umur, namun dalam kemelut masa-masa kritis, Chaidir pun berbisik kepada saya, "Kebenaran itu ada di kampus. Oleh karenanya, yang dapat menembus tembok-tembok dilematis adalah intelektual kita", bisiknya dengan tenang. Buku 1001 Saddam ini bukanlah fenomena dilematis Chaidir, akan tetapi sebuah keyakinannya bahwa sebagaimana lagu yang didendangkan Madonna, "Don't cry for me Argentina. The truth is I never left you. All though my wild days and my mad existence, I kept my promise. Don't keep your distance!" (Jangan menangis untukku Argentina. Sebetulnya aku tak pernah meninggalkanmu. Sepanjang kehidupanku yang liar dan kegilaanku, aku menepati janjiku. Jangan menjauhkan diri!)

Pengantar ini saya tutup dengan sebuah ungkapan Christopher Lasch. "The past should be considered as a political and psychological treasure from which we draw the resources to cope with the future." (Masa lalu harus dipertimbangkan sebagai kegagalan politik atau tekanan perasaan yang harus kita ambil untuk rencana kita masa depan). Sejauh masa lalu, antara kejadian hari ini dan harapan masa depan muncul kegelisahan. Muara kegelisahan ini bukan khayalan, tapi "goresan tulisan sebagai hasil penuangan intelektual kita". Benarlah apa yang diajarkan oleh Chaidir kepada kita dalam 1001 Saddam. Semoga, tak ada waktu yang tersisa dan tersia-sia oleh gelombang dan buih kehidupan.


Tulisan ini sudah di baca 136 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/130-Catatan-Pengiring:.html