Biografi drh. Chaidir, MM

  
  


drh. Chaidir, MM | Biografi drh. Chaidir, MM |
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Dilahirkan di Pemandang sebuah dusun kecil di Kecamatan Rokan IV Koto Rokanhulu pada 29 Mei 1952. Dari sebuah dusun yang berlatar kebudayaan Melayu dan hampir dilupakan oleh sejarah inilah ia kemudian bergerak mengenal kehidupan. Ia tumbuh dan membesar bersama aroma pepohonan, bunyi aliran air sungai Rokan, kicau burung, dan pahit maung kehidupan masyarakat yang serba terkebelakang pada masanya. Namun demikian, dengan modal tekad yang besar, didukung oleh orangtua yang tidak kenal menyerah dalam menyekolahkan anaknya, ia menuju tanah Jawa untuk mendapatkan pendidikan. Gelar Dokter Hewan ia raih pada tahun 1978 di Universitas Gadjah Mada dan pada tahun 2001, berhasil pula menyelesaikan Magister Manajemen di Universitas Padjadjaran, Bandung.

Selain pada dua lembaga di atas, ia pernah mengenyam pendidikan di Queensland University di Brisbane dan James Cook University di Townsville keduanya di Australia pada tahun 1986, yang kemudian dilanjutkan ke IFFOA di Reggio Emilia, Italia pada tahun 1990-1991. Bakat kepemimpinannya mulai tampak sejak mahasiswa. Ia aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan. Langkah awalnya berkenalan dengan dunia pemerintahan dan kepemimpinan ia mulai ketika bertugas di Badan Otorita Batam, yang kemudian semakin menuju kematangan setelah terpilih sebagai Ketua AMPI dan Ketua KNPI di Batam, dan beberapa waktu kemudian duduk pula pada jajaran pimpinan KNPI Provinsi Riau. Pada tahun 1994, sebagai delegasi KNPI Pusat, ia berkesempatan menghadiri Sidang Umum PBB di New York sebagai peninjau.

Mulai tahun 1992, ia terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Riau. Kiprahnya di lembaga ini berlanjut pada periode 1997-1999 dan periode 1999 - 2004. Tahun 1995 ia terpilih menjadi Ketua Komisi D DPRD Provinsi Riau yang dipangkunya sampai 1999, dan pada tahun 1999 itu terpilih pula menjadi Ketua DPRD Provinsi Riau hingga sekarang. Untuk menambah pengalaman kepemimpinan, ia meluangkan waktu untuk mengunjungi berbagai negara, seperti Korea Selatan, Taiwan, Jerman, Belanda, Spanyol, Inggeris, Swiss, Prancis, Afrika Selatan dan hampir serata Asia Tenggara.

Meski sibuk dengan berbagai urusan, pekerjaan intelektual tetap ia lakukan, dengan menulis berbagai kolom di sejumlah media. Ia belajar banyak dari tokoh-tokoh Melayu pada abad ke 19, yang tidak hanya berperan sebagai penguasa tapi sekaligus menjadi sumbu pencerahan. Ia nampaknya berupaya keras mengukuhkan tali kesejarahan itu secara mantap. Paling tidak, ia sudah menerbitkan 4 (empat) buah buku, yang berangkat dari perenungannya tentang masyarakat dan kebudayaan Melayu. Tak jarang pula ia diundang untuk berceramah atau membawakan kertas kerja di sejumlah universitas dan di berbagai forum.


Tumbuh dari Rakyat

Seorang pemimpin adalah seseorang yang disembulkan ke permukaan dari sebuah rimbunan besar yang bernama rakyat. Rakyat merupakan akar, atau alas, atau yang memberikan legitimasi pada seseorang untuk didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Maka ketika seseorang dipercaya atau diangkat kepermukaan, maka ia berkewajiban untuk memberikan yang terbaik kepada rakyat.

Jika seseorang pemimpin durhaka kepada rakyat maka ia akan kehilangan makna sebagai seorang pemimpin. Rakyat merupakan penilai dan penentu utama. Dalam sejarah jatuh bangun seorang pemimpin, atau runtuh megahnya suatu masa kepemimpinan, selalu saja berhubungkait dengan, apakah pemimpin atau masa kepemimpinan itu diisi dengan mengutamakan rakyat atau tidak. Vox populi vox Dei, suara rakyat adalah suara Tuhan.

Karena tumbuh dari rakyat, maka kepada kemaslahatan rakyatlah kebijakan seorang pemimpin mesti diarahkan. Ini sunnatullah, inilah golden rule-nya. Kebudayaan Melayu sejak lama mengajarkan itu. Dalam kitab Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu) dengan tegas dikatakan: Jika seorang hamba Melayu mengubah perjanjiannya dengan hamba Melayu yang lain, alamat negeri akan binasa. Jika dia pemimpin, alamat akan diturunkan tahtanya.

Chaidir sangat memahami itu. Makanya, alas politik yang dianutnya adalah, bahwa ketika seseorang mengatasnamakan rakyat, maka dengan serta-merta ia berhutang kepada rakyat. Pemimpin bukanlah bayang-bayang Tuhan di atas muka bumi atau dzilullah fil ardhi, tapi seorang pemimpin adalah orang yang diamanahkan untuk berbuat bagi kesejahteraan masyarakat banyak. Membayar hutang kepada rakyat, dalam bentuk membuat kebijakan-kebijakan yang mengacu pada kemaslahatan masyarakat, bagi Chaidir, adalah sebuah komitmen yang tak bisa di tawar, sebuah tanggung-jawab yang harus dibayar tunai.


Model Kepemimpinan Melayu

Kegagalan seorang pemimpin yang kemudian menyebabkan lambatnya kemajuan sebuah negeri atau bangsa, seringkali disebabkan oleh kurangnya pemahaman pada diri seorang pemimpin, tentang tanggungjawab yang harus ia lakukan terhadap rakyat. Hal ini bersangkut-kait pula dengan minimnya pengetahuan tentang tradisi serta amanah kepemimpinan, baik yang termaktub dalam sejarah maupun yang tersedia dalam kearifan kebudayaannya sendiri. Pengetahuan dan pemahaman yang tidak memadai tentang diri, dalam konteks kebudayaan, membuat seorang pemimpin mencoba formula-formula baru, tapi ternyata tidak sesuai dengan kondisi setempat. Dan akibatnya, kemajuan yang diharapkan menjadi sebuah kekacauan tanpa ujung.

Dalam konteks Riau, kebudayaan Melayu sebenarnya telah memberikan sebuah amanah yang jelas sekaligus tegas tentang tugas seorang pemimpin. Dalam sebuah risalah yang ditulis oleh Raja Ali Haji, yaitu kitab Tsamarat al-Muhimmah, dengan sangat terang disebut tentang tugas seorang pemimpin, yaitu pertama, sebagai imam atau teladan bagi masyarakat, dan yang kedua, melakukan tugas pemakmuran masyarakat. Konsep ini pada masa lampau terbukti mampu membawa kerajaan-kerajaan di Riau, seperti Riau Lingga, Siak Sri Inderapura, dan kerajaan lainnya, tegak sebagai sebuah kerajaan yang maju dan makmur. Andai kita kembali pada amanah kebudayaan di atas, maka kemajuan dan kemamkmuran pun akan menjadi sesuatu yang datang kepada Riau.

Berangkat dari sejumlah pengetahuan dan pemahaman tentang perjalanan pemimpin dan kepemimpinan, serta alas kebudayaan masyarakat, maka model serta amanah kepemimpinan Melayu, merupakan alas yang tepat bagi seorang pemimpin untuk membawa masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik, dan Chaidir senantiasa menjalankan kepemimpinannya dengan mengacu pada kearifan dan amanah kebudayaan itu.

Mengedepankan Pemikiran

Sejarah pemimpin dan kepemimpinan dunia selalu didominasi oleh dua bentuk yang selalu berlawanan, dengan hasil-hasil yang berlawanan pula. Dua bentuk itu adalah pemimpin yang membuat dan menerapkan kebijakan dengan instrumen kekuasaan semata pada satu pihak, dan dengan mengedepankan pemikiran pada pihak lain. Sejarah kemudian membuktikan, bahwa ternyata hasil kebijakan yang berakar pada pemikiran dan kebijaksanaan lebih bertahan dari alas kekuasaan yang sebesar apapun. Pengetahuan dan kebijakan Yunani dan Imperium Mongolia merupakan bandingan yang paling nyata.

Chaidir, sejak awal telah memahami itu. Ia percaya bahwa kejernihan pemikiran dan ketulusan kebijakan akan memberikan lebih banyak dari apa yang mampu dipersembahkan oleh kekuasaan yang sewenang-wenang, bagi kemanusiaan. Dari mulai merintis karir, pemikiran inilah yang ia persembahkan kepada Riau, dengan berbagai cara. Pemikiran itu juga kemudian menjadi ciri khasnya dalam bertindak. Chaidir adalah orang yang sepakat dengan Francis Bacon yang mengatakan, bahwa hasil pemikiran dan kebijaksanaan masih bertahan dalam rentang waktu dua puluh lima abad, sementara pada rentang waktu yang sama monument kekuasaan telah hancur atau dirubuhkan dan kemudian dilupakan.

Membangun dengan Alas Kebudayaan

Kebudayaan merupakan sebuah bidang yang penting dalam pembangunan, karena kebudayaan merupakan esensi dari manusia, yang memang secara fitrah memiliki dua kecenderungan, yaitu kecenderungan akan hal-hal yang berbau material dan yang berbau spiritual. Kebudayaan merupakan hal spiritual penting setelah agama, dan karenanya, kebudayaan itu menjadi bingkai utama dalam pembangunan semua negara.

Riau juga telah menetapkan kebudayaan itu sebagai junjungan pembangunan. Dalam Visi Riau 2020 ditegaskan, bahwa tujuan yang hendak dicapai Riau pada tahun 2020 adalah menjadi pusat ekonomi dan kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. Berangkat dari visi itu, maka kebudayaan dalam pembangunan provinsi Riau harus mendapatkan ruang yang signifikan, atau paling tidak, setara dengan pembangunan pada bidang lain.

Dalam konteks masyarakat Riau yang kian bergerak maju, dengan segala resapan dan bahkan terkaman westernisasi dan kapitalisasi, pembangunan kebudayaan semakin menemukan sisi pentingnya. Dalam masyarakat yang moderen, kata Matthew Arnold seperti yang dikutip Edward W Said dalam Culture and Imperialism, kebudayaan berperan menjadi media yang menetralisir atau, paling tidak, meredakan perilaku masyarakat yang agresif, anomi, dan serba massif.

Dewasa ini, di serata dunia, orang kembali kepada kebudayaan. Negara-negara yang selama ini bermain dalam terma-terma kapital, semisal Amerika, Eropa, dan Jepang, kembali berpaling pada kebudayaan. Hal ini berangkat dari suatu fakta, bahwa kemajuan besar bidang material yang mereka capai, ternyata menimbulkan ketidakseimbangan dalam masyarakatnya. Dari kecenderungan masyarakat dunia yang pulang pada kebudayaan itu, maka tidak berlebihan kalau Naisbitt dalam Megatrend 2000 mengatakan bahwa abad ke 21 merupakan abad kebudayaan.

Riau, sejak lama telah tumbuh dengan semangat kebudayaan itu, khususnya kebudayaan Melayu. Terbukti bahwa kebudayaan yang menjadi alas masa lampau itulah - khususnya pada abad ke 19 - yang membuat Riau pada hari ini menjadi dikenal oleh dunia luar. Dengan demikian, menjadi sesuatu yang pantas jika kebudayaan menjadi bingkai utama dalam pembangunan Riau ke depan.

Chaidir adalah tokoh yang mempunyai pemahaman memadai tentang hal ihwal kebudayaan Melayu. Chaidir adalah orang yang sejak lama percaya pada William Butler Yeats, tentang bagaimana sebuah negeri ideal dibangun, yaitu sebuah negeri yang riuh oleh lagu, puisi dan balada pada satu sisi, dan memiliki sistim yang kuat pada sisi lain. Kedekatannya dengan budayawan dan sastrawan, baik di Riau maupun luar Riau, menjadikan dirinya sebuah ruang yang memungkinkan untuk lahirnya kebijakan-kebijakan kebudayaan yang memenuhi harapan.


Berwawasan Kebangsaan

Realitas sosial yang majemuk sebenarnya merupakan khazanah yang pantas untuk disyukuri. Negeri yang indah dan kaya ini ternyata ditempati oleh beragam ras, etnis dan corak budaya yang andai tidak bisa dikelola secara benar, akan menjadi ancaman disintegrasi yang luar biasa. Dan hal tersebut sudah banyak terjadi di beberapa daerah dan wilayah yang mestinya menjadi pelajaran berarti bagi kita dalam proses kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sentimentalisme etnis, budaya yang berlebihan, yang kemudian melahirkan fanatisme sempit, adalah suatu pengingkaran terhadap sejarah kehidupan umat manusia yang memang in-herent dengan kemajemukan.

Pemahaman yang benar terhadap realiatas sosial tersebut niscaya akan melahirkan sikap yang lebih toleran, akomodatif, dan terbuka terhadap corak perbedaan yang ada. Kita rasanya sudah sangat lelah dengan segenap konflik, pertentangan yang hanya mengedepankan kepentingan-kepentingan sesaat, tanpa berpikir lebih jernih dengan konstruksi pemikiran yang arif bahwa kepentingan bersama dan masa depan adalah lebih utama. Oleh karenanya, kesadaran kebangsaan sudah semestinya disegarkan kembali, agar kita tidak lagi terjebak pada kepicikan yang tak berarti. Dan Chaidir, dengan back-ground pendidikan, pergaulan dan kebudayaannya adalah sosok yang selalu mengekspresikan kesadaran berwawasan kebangsaan tersebut.

Politisi Cendekia

Pada sekitar tahun 80-an di kalangan kaum muda ketika itu muncul dua trend gerakan dalam merespons perkembangan dan perubahan sosio-ekonomi politik. Pertama, gerakan struktural yang lebih menekankan pada bentuk perubahan masyarakat haruslah bermula dari perubahan struktur sosial, yang lebih mengisyaratkan pada gerakan pragmatisme dan politis. Kedua, gerakan kultural yang menekankan pada perubahan budaya yang tentu saja bersifat gradual (bertahap), dengan senantiasa mengedepankan konsep pemikiran.

Ketika terjadi saling klaim, tentang model mana yang paling benar, Chaidir adalah orang yang konsisten bermain dalam dua wilayah kemungkinan itu sekaligus. Ia tunak melakukan perubahan melalui jalur politik, dan pada sisi lain ia bergemuruh pula berjuang mengubah tatanan kehidupan melalui jalur pencerahan. Tak banyak orang yang mampu memainkan dua hal ini dalam waktu yang bersamaan, dan dari yang tak banyak itu, salah satunya adalah Chaidir.

Selain melakukan tugasnya sebagai wakil rakyat, Chaidir aktif menulis dan menyampaikan pikiran. Pikiran-pikirannya terserlah di sejumlah media massa dan bergema di ruang-ruang diskusi, baik di universitas-universitas maupun pada berbagai seminar lain yang berlangsung pada berbagai level. Tak hanya itu, dalam kesibukan yang padat, Chaidir sempat menerbitkan beberapa buku, seperti Suara dari Gedung Lancang Kuning, yang diberi Kata Pengantar oleh Prof Dr Muchtar Achmad, Berhutang pada Rakyat, yang diberi Kata Pengantar oleh Prof Dr Ichlasul Amal, Panggil Aku Osama, dengan Kata Pengantar oleh Ashadi Siregar dan 1001 Saddam, yang diberi Kata Pengantar oleh Prof Dr Tabrani Rab. Dari tokoh-tokoh yang memberikan kata pengantar tersebut, agaknya diperoleh gambaran wilayah dimana Chaidir berada. Oleh karenanya tidak berlebihan bila Chaidir, oleh lingkungannya diberi stempel seorang politisi cendekia, seorang politisi intelektual.


Belajar dari Sejarah

Tindakan-tindakan besar yang kemudian melahirkan pemimpin-pemimpin besar adalah tempat bercermin bagi pemimpin sekarang untuk menuju kemajuan. Semua pemimpin dunia, dalam mengambil tindakan selalu mengacu atau berpaling pada pengalaman masa lalu. Atas dasar itu mungkin, orang bijak merumuskan, bahwa berpaling kepada masa lalu merupakan strategi yang paling tepat untuk menafsirkan masa kini. Sejarah adalah sesuatu yang penting, kata TS Eliot, karena sejarah bukanlah semata-mata berisi keberlaluan masa lalu, tapi dia juga memberi makna pada kehadiran masa kini.

Menjenguk ruang sejarah dalam konteks kepemimpinan, artinya adalah menjenguk pemikiran-pemikiran besar yang menciptakan sejarah. Dengan demikian, kita menjadi tahu, apa yang mesti dilakukan pada masa kini dan apa pula yang mesti ditinggalkan. Tidak hanya itu, dengan menjenguk pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan besar, kita dapat pula melihat, apakah tindakan-tindakan yang diambil dalam kepemimpinan selama ini sudah benar atau belum. Jika belum, maka akan dapat diperbaiki, jika sudah, maka tinggal memperkuatnya. Riau memerlukan sosok yang selalu menghanyutkan diri dalam alir air pemikiran besar tersebut. Dan Chaidir adalah salah satu dari sedikit orang Riau yang berada pada posisi itu. Berbagai tokoh pemikir dunia adalah tempat dia bertamu. Ia "bergaul" dengan tokoh-tokoh itu. Sekali waktu dengan Thomas Hobbes ke kampung Leviathan dan yang lain, di lain waktu berbincang sejarah dengan Will Durrant, berbual menjelang petang di taman politikus dan filsuf Francis Bacon, di pegunungan Satyagraha Gandhi mengambil sejuk, di Republik Plato ia tak jarang pula mencoba menemukan jawaban atas persoalan yang dihadapi rakyat, lagi, lagi dan lagi.

Pemikiran besar yang berseberangan dengan kebudayaan dan keyakinan transendental yang ia anut, tak luput pula ia cermati. Ia pelajari Sang Pangeran Machiavelli dengan sungguh-sungguh dan kemudian dengan sungguh-sungguh pula menolaknya. Ia selami tokoh-tokoh eksistensialis Albert Camus, JP Sartre, Karl Jasper dan kemudian ia jadikan sandingan. Beralih ke Timur, bukan sekali dua pula ia bermandi hujan pemikiran Sukarno, berenang di telaga Kung Fu Tse dan Lao Tse, serta berbagai tokoh penting timur lainnya.

Kedekatannya dengan berbagai pemikiran besar yang dihidangkan oleh ruang sejarah, membentuk dirinya menjadi seorang politisi intelektual yang selalu mengutamakan pendekatan persuasif. Ia sepakat dengan Lao Tse, ketika menjadi pemimpin tak mesti seperti air yang bergemuruh, tapi sebaliknya selalu mencoba menjadi sebuah telaga yang tenang dan menyejukkan.

Provinsi Riau yang saat ini sarat dengan berbagai persoalan, mulai dari persoalan ekonomi, politik, sampai pada beragamnya etnik serta berkecamuknya sejumlah kepentingan, memerlukan kehadiran sosok seperti Chaidir, tidak jadi persoalan benar dimana dia berdiri.

biografi -
Tulisan ini sudah di baca 9048 kali
sejak tanggal 29-05-1952